JagatSembilan.com | Bojonegoro – Di tengah temaram lampu Balai Desa Mojoagung, Kecamatan Soko, Tuban, Sabtu (7/3/2026) malam, sebuah narasi besar tentang kemandirian umat sedang ditulis. Bukan melalui pendanaan besar korporasi, melainkan lewat denting uang logam Rp 1.000 dan Rp 2.000 yang dikumpulkan warga Nahdliyin melalui “Koin NU”.
Kegiatan bertajuk “Ngaji Bareng” dalam rangka Peringatan Nuzulul Quran ini menjadi panggung bagi UPZIS NU Care-LAZISNU, mulai dari tingkat ranting (desa), kecamatan, hingga kabupaten, untuk menyalurkan amanah warga. Antara pukul 20.30 hingga 22.30 WIB, balai desa tersebut menjelma menjadi simpul solidaritas sosial yang nyata.
Melalui program “NU Care Damai”, bantuan disalurkan dalam bentuk infak kepada empat masjid dan santunan bagi tiga warga fakir. Tak berhenti di situ, aspek masa depan generasi muda turut diintervensi melalui program “NU Care Cerdas”. Sebanyak 31 siswa mendapatkan bantuan pendidikan, yang terdiri dari 5 siswa tingkat RA/TK, 14 siswa SD/MI, dan 12 siswa SMP/MTs.
Kehadiran Struktural dan Legalitas
Ketua LAZISNU PCNU Tuban Joko Hadi Purnomo yang juga dosen IAI Al-Fatimah Bojonegoro menekankan bahwa kegiatan ini adalah bukti otentik kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) dalam meringankan beban dasar masyarakat. Menurutnya, LAZISNU bukan sekadar lembaga filantropi lokal, melainkan amil syari tingkat nasional yang memiliki legitimasi hukum dari pemerintah.
“Ini adalah bentuk kehadiran NU untuk mendukung warga kurang mampu dan siswa sekolah. Kami mengimbau masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya melalui LAZISNU yang telah sah secara regulasi,” ujarnya. Ia juga menitikberatkan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, tokoh agama, dan masyarakat untuk mewujudkan tata kelola ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) yang mantap.
Hadir dalam acara tersebut Rois Syuriyah MWCNU Soko, jajaran manajer area UPZIS NU Care-LAZISNU dari berbagai tingkatan, Kepala Desa Mojoagung, serta para tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung prosesi penyaluran kepada para mustahik (penerima manfaat).
Dimensi Teologis dan Kemanusiaan
Rois Syuriyah MWCNU Soko, KH Shodikin, memberikan kedalaman perspektif dalam tausiyahnya. Ia merujuk pada teks suci Al Quran yang menyebut kata zakat sebanyak 30 kali dan sedekah sebanyak 23 kali dalam berbagai varian kata. Hal ini, menurutnya, menunjukkan betapa krusialnya dimensi sosial dalam Islam.
Kiai Shodikin mengingatkan bahwa kepedulian sosial adalah kewajiban kolektif atau fardhu kifayah. “Jika ada warga di sebuah dusun meninggal karena kelaparan, maka seluruh penghuni dusun tersebut menanggung dosa,” tegasnya.
Ia juga menyitir surah Al-Baqarah ayat 261 untuk meyakinkan para muzaki (pembayar zakat) bahwa rezeki yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan berkurang, melainkan akan diganti dengan berlipat ganda.
Kemandirian dari Akar Rumput
Fenomena Koin NU di Mojoagung ini memberikan pelajaran berharga tentang kekuatan ekonomi mikro. Uang recehan yang dikumpulkan secara konsisten terbukti mampu menjadi instrumen jaring pengaman sosial (social safety net) yang efektif di tingkat desa.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pemberdayaan umat tidak selalu bergantung pada kebijakan top-down, melainkan bisa tumbuh subur dari kesadaran kolektif warga di akar rumput. Di tengah tantangan ekonomi global, model kemandirian berbasis filantropi tradisional yang dikelola secara modern ini menjadi oase bagi ketahanan sosial masyarakat pedesaan di Tuban.














