JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) hari ini gelar pembinaan untuk pengembangan klaster sapi potong berbasis hilirisasi kolaborasi Bank Indonesia dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Acara itu dilaksanakan di Balai Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (23/04/2026).
Program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat rantai nilai peternakan dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Elfia Nuraini Sekretaris Dinas mewakili Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Bojonegoro sebagai lokasi pengembangan klaster sapi potong melalui proses seleksi ketat.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sektor keuangan, akademisi, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem peternakan yang berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi Bank Indonesia yang telah memilih Bojonegoro sebagai lokus pengembangan klaster sapi potong. Kolaborasi ini sangat penting, karena Bank Indonesia menghadirkan dukungan pembiayaan dan pendampingan ekonomi, sementara Fakultas Teknologi Pertanian memberikan dukungan riset dan teknologi. Dinas Peternakan memastikan aspek teknis budidaya, kesehatan hewan, dan pembinaan peternak berjalan optimal,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan klaster sapi potong memiliki nilai strategis karena mampu mengintegrasikan proses produksi mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, pemeliharaan, hingga pengolahan produk bernilai tambah seperti daging olahan, pupuk organik, dan kulit.
Program ini juga selaras dengan indikator kinerja utama (IKU) dinas, yakni peningkatan populasi dan produksi peternakan, peningkatan produksi perikanan, serta penguatan produk unggulan daerah.
“Melalui hilirisasi ini, kita tidak hanya meningkatkan pendapatan peternak, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di daerah,” lanjutnya.
Ia menambahkan, keberhasilan klaster sangat bergantung pada tiga pilar utama, yakni kualitas bibit, pakan, dan manajemen. Peran perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan inovasi teknologi, terutama dalam pengolahan pakan fermentasi dan pengawetan produk daging agar memiliki daya saing tinggi.
Selain itu menurutnya, dukungan pembiayaan dari Bank Indonesia diharapkan dapat memperluas akses permodalan bagi peternak skala kecil melalui skema kredit yang terstruktur dan inklusif.
Kepada para peternak, ia berpesan agar memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperkuat kelembagaan.
“Peternak adalah ujung tombak. Manfaatkan pendampingan yang ada, jaga kualitas, dan bangun kelembagaan seperti koperasi atau kelompok usaha agar posisi tawar semakin kuat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pengembangan klaster telah dilakukan secara bertahap dari sektor hulu hingga hilir bersama perguruan tinggi.
“Bertahap dari hulu, sebelumnya telah dilakukan pendampingan oleh Fakultas Peternakan UB hingga kelompok memiliki koperasi, bahkan difasilitasi pembangunan kantor dan kendaraan operasional berupa mobil pick up. Pada tahun 2025, fokus diarahkan pada hilirisasi, di mana kelompok sudah mampu menghasilkan produk olahan daging seperti sosis, abon, nugget, dan pentol bakso,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap produk-produk tersebut mampu bersaing di pasar dengan dukungan peningkatan kualitas kemasan serta kelengkapan sertifikasi.
“Kami dorong agar produk memiliki sertifikasi halal, NKV, dan IPRT, sehingga dapat menjadi produk unggulan Kabupaten Bojonegoro yang berdaya saing,” tambahnya.
Pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan dan Perikanan juga berkomitmen memberikan dukungan penuh, mulai dari penyediaan data, fasilitasi regulasi, hingga pengawasan kesehatan hewan dan keamanan pangan.
Program ini sekaligus mendukung lima prioritas pembangunan daerah, yakni penurunan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pengurangan pengangguran, serta penguatan konektivitas wilayah berbasis produk unggulan desa.
Melalui program ini, Bojonegoro diharapkan mampu menjadi model hilirisasi peternakan yang dapat direplikasi di daerah lain serta memperkuat ketahanan pangan daerah.














