JagatSembilan.com | Tuban – Upaya mendorong pertanian berkelanjutan berbasis pemuda dan perempuan mulai dikembangkan di Desa Sokosari, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Salah satunya melalui pembukaan Sekolah Lapang Agroekologi yang digelar pada Rabu (12/08/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta tersebut berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama digelar di BUMDesa Agro Asoka, Desa Sokosari, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Kegiatan diisi dengan sosialisasi demoplot area sekaligus pembukaan Sekolah Lapang Agroekologi dengan tema pembangunan pertanian berkelanjutan berbasis pemuda dan perempuan.
Ketua Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban (SPT), Wakhid Hasyim, menyampaikan materi mengenai program transisi agroekologi. Sementara Tria Ratna Sari dari BPP Kecamatan Soko mengenalkan sistem Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PMAAS) sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung program agroekologi.
Menurut Wakhid, transisi menuju pertanian agroekologi penting dilakukan karena menghadapi sejumlah persoalan yang terjadi di sektor pertanian. Di antaranya menurunnya kesuburan tanah, penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan, hingga berkurangnya budaya pengembalian pupuk kandang ke lahan pertanian.
Selain itu, kenaikan harga sarana produksi pertanian (saprotan) setiap tahun juga menjadi tantangan bagi petani.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan pertanian yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Transisi agroekologi ini menjadi penting karena kesuburan tanah di lahan pertanian terus menurun, sementara penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan juga menjadi persoalan,” ujar Wakhid.

Ia menambahkan, berkurangnya budaya mengembalikan pupuk kandang ke lahan serta meningkatnya harga sarana produksi pertanian turut memperbesar beban petani. Karena itu, pengembangan agroekologi diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki kondisi tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian dari luar.
Setelah sesi pertama, kegiatan dilanjutkan pada pukul 11.00 hingga 13.00 WIB di Bank Sampah Asoka, Desa Sokosari. Pada sesi kedua, peserta mendapatkan praktik transisi agroekologi dengan memanfaatkan bahan dasar sampah rumah tangga dan sampah pasar.
Praktik tersebut meliputi pembuatan zeolit, pupuk organik cair (POC), serta pupuk organik padat. Praktik pembuatan zeolit disampaikan Syihabudin dari Pemuda Tani SPT. Sementara pembuatan POC dipraktikkan oleh Martin dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).
Adapun Heri Sutarto dari Bank Sampah Asoka memberikan praktik mengenai alur pemilahan sampah organik yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik padat.
Menurut Wakhid, pemanfaatan sampah sebagai bahan input pertanian merupakan bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat diolah kembali sehingga memiliki manfaat bagi sektor pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga melakukan penentuan lokasi demoplot di sekitar lahan Bank Sampah Asoka serta menyepakati rencana persemaian sebagai bagian dari tindak lanjut Sekolah Lapang Agroekologi.
Kegiatan ini diselenggarakan Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban (SPT) dengan dukungan Seknas Aliansi Petani Indonesia (API) dan Thausand Current.
Melalui sekolah lapang tersebut, pengembangan agroekologi diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut melalui praktik di demoplot dan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Pelibatan pemuda dan perempuan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut, sehingga pertanian berkelanjutan dapat tumbuh sebagai gerakan bersama yang melibatkan generasi muda, kelompok perempuan, petani, serta komunitas di tingkat desa.(Red)














