Pengajian Muslimat-Fatayat NU Dander Dihadiri Ribuan Jamaah, Jaga Pandangan Jadi Pesan Tausiyah

Pengajian Muslimat-Fatayat NU Dander dihadiri 2.500 jamaah
KH. Agus Salim menyampaikan tausiyah Pengajian rutin Muslimat dan Fatayat NU PAC Dander diikuti sekitar 2.500 jamaah dari 20 ranting se-Kecamatan Dander, Jumat (7/8/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pengajian rutin Muslimat dan Fatayat NU Pimpinan Anak Cabang (PAC) Dander, Kabupaten Bojonegoro, diikuti sekitar 2.500 jamaah dari 20 ranting se-Kecamatan Dander. Dalam kegiatan yang berlangsung di Masjid Raudlatul Jannah, Ranting Dander, Jumat (7/8/2026), jamaah mendapat pesan penting tentang menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang tidak diridai Allah SWT.

Kegiatan rutin yang digelar setiap bulan tersebut berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Ribuan jamaah dari berbagai ranting mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang menjadi salah satu sarana mempererat silaturahmi dan ukhuwah warga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Dander.

K. Nurhadi selaku tuan rumah menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan maupun pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan.

“Terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah. Kami mohon maaf apabila dalam penyambutan dan pelaksanaan acara ini masih terdapat kekurangan. Semoga dapat dimaafkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dander menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan kegiatan rutinan Muslimat dan Fatayat NU.

Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam mendukung kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian warga terhadap kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Ajak Warga NU Teladani Perjuangan Ulama

Ketua PAC Fatayat NU Dander, Lely Setyorini, dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah untuk terus meneladani semangat para ulama dan pejuang terdahulu.

Menurut Lely, perjuangan di masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata. Perjuangan dapat diwujudkan melalui peningkatan ilmu, menjaga akhlak, memperkuat persatuan, mendidik generasi muda, serta mempertahankan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Sebagai warga Nahdlatul Ulama, kita meyakini bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari wujud syukur kepada Allah SWT. Semangat para ulama dan para pejuang harus terus kita teladani. Kini perjuangan kita bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat ilmu, menjaga akhlak, memperkuat persatuan, mendidik generasi muda, serta menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk semakin aktif mengikuti kegiatan rutinan dan berbagai kegiatan NU. Lely berharap jumlah jamaah pada kegiatan berikutnya semakin bertambah dan kekompakan warga NU di Kecamatan Dander semakin kuat.

Apresiasi juga disampaikan perwakilan MWCNU Dander. Ia berharap kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU yang dilaksanakan setiap bulan dapat terus berjalan dan menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, meningkatkan ukhuwah, serta memperkuat kekompakan warga NU.

“Semoga NU di Kecamatan Dander semakin jaya dan semakin kompak dengan adanya rutinan Muslimat dan Fatayat NU ini,” ujarnya.

KH Agus Salim Ingatkan Pentingnya Menjaga Pandangan

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan KH Agus Salim.

Dengan gaya penyampaian yang santai dan diselingi humor, KH Agus Salim berhasil menjaga antusiasme jamaah selama tausiyah. Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga mata dan hati dari berbagai hal yang tidak diridai Allah SWT.

Dalam tausiyahnya, KH Agus Salim menyampaikan tiga golongan mata yang tidak akan menangis pada hari kiamat.

Pertama, mripat seng melek kerono berjuang neng dalane Allah, yakni mata yang terjaga karena digunakan untuk berjuang di jalan Allah. Salah satu bentuknya adalah menghadiri dan mengikuti kegiatan keagamaan.

Kedua, mripat seng merem nek nguwasi barang seng diharomno Gusti Allah, yaitu mata yang terpejam ketika melihat sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Pesan ini mengajarkan pentingnya menjaga pandangan dan menjauhi berbagai hal yang dilarang agama.

Ketiga, mripat seng nangis saking wedine Gusti Allah, yakni mata yang menangis karena rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Rasa takut kepada Allah menjadi salah satu bentuk keimanan yang mendorong seseorang untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam suasana tausiyah yang cair, KH Agus Salim juga menyampaikan guyonan kepada jamaah, salah satunya, “Meskipun ora pengurus, seneng nek ngiwasi enek ijo-ijo.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar senantiasa menjaga pandangan, memperbanyak amal kebaikan, mengikuti kegiatan keagamaan, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kegiatan Pengajian Rutin Muslimat dan Fatayat NU PAC Dander berlangsung lancar, tertib, dan penuh kekhidmatan. Kehadiran sekitar 2.500 jamaah dari 20 ranting menunjukkan tingginya antusiasme warga NU dalam menjaga silaturahmi sekaligus menghidupkan kegiatan keagamaan di Kecamatan Dander.

Rutinan yang digelar setiap bulan tersebut diharapkan terus menjadi wadah untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan kekompakan warga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Dander.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *