Jagatsembilan.com | Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tengah menggagas sebuah program bertajuk Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) sebagai langkah strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan di wilayah pedesaan. Program ini mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp7 miliar, dengan sasaran ratusan kepala keluarga yang tersebar di beberapa desa.
Setiap desa rencananya akan menerima 6 (enam) KK terpilih, yang masing-masing akan diberi 50 ekor ayam petelur beserta sarana pendukung seperti kendang, vitamin dan pakan awal. Diharapkan dengan adanya program ini, masyarakat mampu secara mandiri mengelola ternak ayam petelur sebagai sumber pendapatan harian dari hasil produksi telur.
Program Gayatri mendapat perhatian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bojonegoro. Ketua Umum HMI, Rony Sugiarto, menyampaikan bahwa meskipun program Gayatri memiliki niat baik, namun masih terdapat banyak hal yang perlu dikaji secara serius sebelum direalisasikan.
“Kami mendukung setiap program yang tujuannya untuk menyejahterakan rakyat, namun jangan sampai niat baik ini justru gagal karena perencanaan yang belum matang. Dengan anggaran mencapai Rp 7 miliar, sudah seharusnya konsep program ini transparan, terukur, dan berkelanjutan. Jangan sampai hanya menjadi program seremonial yang hasilnya tidak jelas,” terang Rony kepada jagatsembilan.com pada Senin (14/04/2025).
HMI menilai bahwa distribusi penerima yang hanya 6 KK per desa dengan anggaran sebesar itu perlu dikaji ulang efektivitas dan pemerataan manfaatnya.
Menurut Rony, saat ini belum ada pola pendampingan teknis dan pelatihan bagi penerima manfaat, mekanisme distribusi ayam dan pakan yang tepat guna dan efisien, serta kesiapan infrastruktur dan monitoring pasca-pemberian bantuan.
“Usia ideal ayam petelur untuk mulai dipelihara adalah sekitar 16-18 minggu, pada usia tersebut, ayam petelur dapat menghasilkan telur secara konsisten selama kurang lebih 12–14 bulan ke depan,” tambahnya.
Rony menambahkan HMI Cabang Bojonegoro juga meminta agar pemerintah lebih melibatkan akademisi, komunitas peternak lokal, dan organisasi kepemudaan seperti HMI dalam menyempurnakan konsep Gayatri ini agar benar-benar menyentuh akar masalah kemiskinan secara struktural, bukan hanya bersifat jangka pendek.
“Memberi ayam itu mudah. Tapi bagaimana memastikan ayam itu tetap produktif, hasilnya bisa dijual, dan tidak mati sebelum bertelur – ini yang harus dijelaskan. Kalau tidak hati-hati, program ini bisa jadi ‘proyek coba-coba’ yang gagal dan menyia-nyiakan anggaran publik,” tegasnya.
Sebagai bentuk kontrol sosial, HMI menyatakan siap untuk terus mengawal program Gayatri ini dari hulu ke hilir.














