JagatSembilan.com | Bojonegoro – Suasana sakral terasa di kawasan wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, saat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar prosesi Ruwatan Murwakala. Acara ini jadi bagian penting dari Festival Geopark Bojonegoro 2025, yang memadukan budaya lokal dan potensi alam Bojonegoro demi menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Ruwatan ini digelar meriah, tapi tetap kental nuansa spiritualnya. Dalang ternama Kyai Ngaesan Hadi Purwocarito memimpin pagelaran wayang kulit yang menyertai prosesi. Sebanyak 100 orang sukerta ikut ruwatan dari total 170 peserta yang datang dari berbagai wilayah Bojonegoro. Yang menarik, semua rangkaian acara ini gratis dan terbuka untuk umum—bentuk nyata pelayanan budaya kepada masyarakat.

Hadir dalam acara ini Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama istri Cantika Wahono, Wakil Bupati dan suaminya Budi Jatmiko, serta sejumlah pejabat daerah lainnya seperti Staf Ahli Bupati, Kepala OPD, Forkopimcam Ngasem, hingga Kepala Desa Sendangharjo.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Welly Fitrama, menyampaikan bahwa ruwatan ini bukan hanya acara budaya biasa.
“Bojonegoro telah memperoleh Letter of Intent dari Gubernur Jawa Timur untuk mengikuti proses penilaian UNESCO Global Geopark. Harapannya, Kayangan Api dapat menjadi geosite yang diakui secara global. Peran aktif warga Sendangharjo dalam menjaga dan membumikan situs Kayangan Api sangat penting dalam proses ini,” jelasnya. Jumat (27/06/2025)
Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan pentingnya nilai-nilai luhur dalam prosesi ini.
“Melalui kegiatan ini, kita menunjukkan penghormatan terhadap alam dan Sang Pencipta, sekaligus membentuk jati diri masyarakat untuk hidup rukun dan bergotong royong. Ini adalah bagian dari memperkuat identitas sosial masyarakat Jawa, khususnya di Bojonegoro,” katanya.

Festival Geopark 2025 ini bukan cuma ajang seremoni, tapi juga momentum penting untuk promosi wisata, menjaga budaya, sekaligus membentuk karakter masyarakat. Harapannya, kegiatan ini bisa rutin digelar tiap tahun dan membawa nama Bojonegoro makin dikenal di kancah dunia.
Sementara itu sehari sebelumnya, Kamis (26/06/2025), telah dilakukan prosesi pengambilan minyak bumi secara tradisional dari sumur tua di Wonocolo salah satu titik geologi penting Bojonegoro. Minyak itu kemudian disemayamkan di Pendopo Kayangan Api, sebagai simbol kuatnya ikatan antara alam dan nilai-nilai spiritual masyarakat. Malam harinya, warga berkumpul untuk membaca sholawat dan doa bersama, menyatukan budaya lokal dengan nuansa keislaman yang hidup di tengah masyarakat.














