Selamat Memimpin Bojonegoro, Harapan Dan Doa Terbaik Dari Kaum Santri

Oleh : Ibnu Khakim, M.HI

Pelantikan kepala daerah serentak digelar hari ini. Sebanyak 481 kepala daerah terpilih akan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Jakarta. Berdasarkan keterangan dari Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, pelantikan kepala daerah akan digelar pada Kamis lusa, 20 Februari 2025. Pelantikan akan digelar pukul 10.00 WIB, bertempat di Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Atmosfer hiruk pikuk dan uforea juga sangat terasa mulai kemarin di Kabupaten Bojonegoro, hal ini ditandai puluhan bahkan ratusan karangan bunga ucapan selamat dan doa tampak berjajar rapi memenuhi lingkungan kantor Pemkab Bojonegoro, belum lagi ribuan bahkan jutaan status atau story di akun sosial media, berbagai kalangan, baik instansi pemerintah, organisasi Masyarakat bahkan personal ikut berpartisipasi dan berdoa untuk kebaikan pemimpin baru yang kebetulan ber_jargon “luwih apik” atau dalam Bahasa Indonesia berarti “lebih baik”. Tak luput juga kalangan pesantren dan santri yang memang punya hak, kewajiban dan harapan yang sama sebagai warga Negara.

Ibarat sebuah kapal – seperti juga kapal-kapal yang lain – Bojonegoro harus tetap meneruskan pelayarannya. Saat ini arah dan tujuannya memang masih cukup terkuasai. Namun demikian, keganasan ombak di lautan tampak semakin tidak terkendali. Cuaca semakin sulit diprediksi. Lihat saja VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). stilah ini juga dapat digunakan untuk kata sifat (gejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu). Istilah VUCA sendiri berasal dari US Army War College untuk menggambarkan situasi di Perang Dingin. Sejak itu, konsep VUCA telah diadopsi oleh perusahaan dan organisasi di banyak industri dan sektor untuk memandu kepemimpinan dan perencanaan strategis.

Terkait mendoakan pemimpin, Imam Abu Jafar Ath-Thahawi dalam situs muslim.or.id menerangkan bahwa seorang muslim tidak boleh mendoakan kejelekan. “Dan tidak mendoakan kejelekan bagi mereka (pemimpin atau pemerintah).” Lebih lanjut, Imam Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata, “Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Senada dengan Imam Fudhail bin ‘Iyadh, Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan berkata, “Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum muslimin, maka dia tidaklah berada di atas mazhab ahlus sunnah wal jamaah. Demikian pula, orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jamaah.”

Pergantian pemimpin baru saja dimulai. Setiap menyongsong pemimpin baru banyak orang yang memiliki impian dan harapan besar. Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin. Salah satunya berharap pada pemimpin baru. Oleh karena itu, semua orang pasti berharap mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, seperti sukses dalam pekerjaan, mendapatkan harta yang lebih banyak, pendidikan yang lebih baik, mendapatkan income yang baik dan seluruh aspek kehidupan lainnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena selayaknya setiap pemimpin baru harus lebih baik dari sebelumnya, seperti sabda Nabi Muhammad saw. ’’Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Al Hakim).

Namun selayaknya kita tidak terburu – buru menuntut dan “ngriwu’i” dengan tuntutan dan berbagai permintaan yang menuruti keinginan kita, mari kita beri kesempatan pemimpin baru dengan dukungan dan doa agar setahap demi setahap merealisasikan program – program yang dijanjikan saat kampanye, biarkan beliau bekerja dengan nyaman dan tenang tanpa ada intervensi berlebihan dari masyarakat, meskipun kita juga berhak memberikan masukan positif untuk lebih baik, dengan cara – cara yang baik pula.

Akhirnya, selamat dan berkah untuk Bapak H. Setyo Wahono dan Ibu Hj. Nurul Azizah, semoga Alloh senantiasa meridhoi dan menolong panjenengan berdua, doa dari kami selalu mengalir agar selalu diberi kemudahan dan petunjuk dalam bekerja untuk seluruh rakyat bojonegoro luwih apik. Amin.

 

*) Penulis _Ibnu Khakim, M.HI,_ adalah Intelektual Muda, Intsruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *