Oleh: Sighro Tyang Alit
Penerapan teknologi informasi dalam pelaksanaan Pemilu modern menjadi keniscayaan di era digital saat ini. Salah satunya dengan aplikasi SILON (Sistem Informasi Pencalonan). Tujuan penggunaan Silon tentunya sangat bagus dan mulia. Dengan Silon dapat menjaga transparansi dan etika dalam rangka keterbukaan publik karena data bakal calon yang ditampilkan dalam Silon akan terintegrasi dengan info Pemilu, sehingga dapat diakses oleh publik. Mulia bukan?
Namun pertanyaannya, sudah siapkah infrastruktur digital yang kita miliki? Sebab teknologi digital sangat bergantung dengan kelancaran jaringan internet.
Tidak sedikit Bapaslon pilkada yang tersebar di seantero Indonesia mengeluhkan lemotnya jaringan, yang berakibat gagalnya mereka mengunggah data dukungan ke aplikasi silon, sampai batas waktu yang sudah ditentukan.
Sudah pasti dengan tidak terpenuhinya jumlah dukungan yang diupload pada aplikasi silon, KPU sebagai penyelenggara pemilu, akan mengembalikan berkas pendaftaran Bapaslon, meskipun jumlah dukungan secara fisik (hard copy) maupun non fisik soft copy telah memenuhi bahkan melebihi syarat dukungan yakni 6,5 persen dari jumlah DPT di masing masing wilayah.
Nah, ibarat legenda candi Prambanan, seorang calon yang berangkat melalui jalur independen itu adalah Bandung Bondowoso yang punya banyak kesaktian dan siap memenuhi persyaratan demi mendapatkan Roro Jonggrang, namun digagalkan oleh terbatasnya waktu dan berbagai godaan yang menghambat proses pembangunan seribu candi seperti yang disyaratkan Roro Jonggrang.
Menurut pengakuan tim pasangan Nurul Azizah – Nafik Sahal, waktu 3×24 jam yang diberikan KPUD sangat mepet, apalagi aplikasi ini baru bagi mereka, dan mereka harus mempelajari sendiri tanpa ada bimbingan teknis (bimtek) dari penyelenggara pemilu.
Diceritakan oleh salah seorang tim IT dari NUANSA (sebutan pasangan Nurul Azizah dan Nafik Sahal) bahwa untuk satu formulir saja, mereka harus kerja berkali kali. Berikut ini curhatan dari tim IT yang bekerja full time selama 3 hari.
Sebuah cerita dari WhatsApp tim sukses nuansa yang sudah penulis olah. Kira-kira seperti di bawah ini :
Bayangkan Pak. Proses di SILON
Dalam satu Formulir kerjanya berkali kali.
Pertama cari KTP
Kedua Setor Verifikasi data
Ketiga Rekap Excel
Keempat Scan
Kelima discan dipilih lagi dikasih nama per formulir dengan nama NIK
Keenam Resume Excel. Pada resume ini harus sama antara NIK dan tanggal lahir
Ketujuh Upload
Orang ahli ngetik 1 Formulir 1 menit lbh dikit. Orang biasa 2 menit. Latihan 3 menit.
Dikalkulasi jumlah formulir 75.777.
1 orang pegang 500 lembar itu sudah mulai Jam 8 – 17 baru selesai. Itu 1 orang. Itu sdh yang ahli ketik.
SILON kita pelajari sendiri. Program baru Juga.
Begitu cerita dari Tim Sukses Nuansa yang sampai ke penulis.
Nah, kembali ke cerita Bandung Bondowoso. Dengan segala upayanya Bandung Bondowoso mengerahkan segala kekuatannya dengan dibantu pasukan ghoibnya dalam kurang dari semalam, Bandung Bondowoso berhasil membangun sembilan puluh sembilan candi dari seribu candi yang disyaratkan.
Mengetahui dukungan yang masif dari alam astral, munculah niat licik Roro Jonggrang anak Prabu Boko si raja Raksasa jahat penguasa kerajaan Prambanan, untuk mengganggu kinerja tim sukses Bandung Bondowoso. Berbagai upaya dilakukan Roro Jonggrang untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso, mulai dari merekayasa waktu dengan cara membuat perapian agar langit menjadi terang sehingga para ghoib menganggap bahwa matahari sudah terbit, memukul mukul lesung agar ayam jago berkokok dan suasana menjadi gaduh.
Singkat cerita, siasat Roro Jonggrang berhasil dan tim sukses Bandung Bondowoso tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya padahal hanya kurang satu candi. Melihat hal itu sontak Bandung Bondowoso menggelegak amarahnya. Ia merasa segala upayanya tidak dihargai, maka dengan kesaktiannya ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca demi menggenapkan menjadi seribu candi.
Demikian pula dengan yang dialami calon independen Nurul Azizah dan Nafik Sahal, dari 67.200 berkas dukungan yang disyaratkan, 59.891 yang berhasil diunggah, sehingga masih kurang sekitar 7000-an yang tidak berhasil masuk ke aplikasi Silon.
Akankah para pendukung NUANSA akan pasrah dan meninggalkan kegagalan ini seperti pada ghoib yang lari karena takut pada siang hari? Rencananya hari ini, Senin 20/05/2024 tim sukses NUANSA akan mengirimkan gugatan sengketa pilkada kepada Bawaslu. Jelas mereka tidak terima dukungan riil dari rakyat Bojonegoro hanya digagalkan oleh alat yang sangat bergantung pada jaringan internet.
Kita lihat saja apakah suara rakyat masih menjadi suara Tuhan, atau hanya sebagai pelengkap dalam sistem bernegara yang disebut demokrasi.
Penulis adalah pengangguran yang sok sibuk dengan menyaru sebagai seniman.













