Strategi Borong Partai, Cara Culas Memenangi Pilkada

oleh: Sighro Wong Alit

Fenomena calon tunggal menjadi strategi baru untuk memenangkan pilkada dengan menghambat kehadiran calon lainnya. Sikap politik seperti ini merupakan cara-cara rezim otoriter untuk untuk menyingkirkan lawan politik mereka.

Sikap politik bisa ditunjukkan dengan berbagai bentuk. Jika sikap politik bersifat positif, maka perilaku politik yang ditampilkan juga akan positif. Sebaliknya, jika sikap politik yang ditampilkan bersifat negatif maka perilaku politik yang ditampilkan juga akan negatif.

Sikap politik positif atau negatif tidak terlepas dari peristiwa politik yang terjadi dan aktor di dalamnya. Pada pemilu yang diselenggarakan pada 14 Februari lalu, partai yang dinahkodai mantan bupati Bojonegoro periode 2019-2023, Anna Muawanah mendatang menjadi pemenang dengan perolehan kursi mayoritas (13 kursi), dan menjadi satu satunya partai yang bisa memberangkatkan calon bupati tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.

Anna juga berhasil meraih tiket sebagai anggota DPR-RI dengan perolehan suara yang cukup signifikan. Hal ini tentu memicu kepercayaan diri berlebih pada perempuan asal Tuban ini, untuk kembali menguasai singgasana Kabupaten Bojonegoro.

Namun sebagai seorang politisi yang sudah kenyang makan asam garam perpolitikan Indonesia, Anna tidak mungkin hanya mengandalkan partainya. Untuk itu, ketika mulai dibuka pendaftaran bagi para bakal calon bupati, selain sudah yakin mendapatkan rekomendasi dari partainya, ia pun berburu rekomendasi dengan turut mendaftarkan diri di partai lainnya.

Sampai di sini tentu Anna sudah siap betul segala konsekuensi yang harus ia tanggung, khusunya tentang sikap pragmatis partai politik. Sebagai politisi yang pernah dinobatkan sebagai bupati terkaya nomor satu di Jawa Timur, sepertinya uang bukan masalah bagi perempuan yang juga memiliki suami seorang pengusaha nasional tersebut.

Pendeknya uang bukan masalah bagi politisi sekelas Anna, terlebih Kabupaten Bojonegoro memiliki APBD Tertinggi nomor dua se Jawa Timur. Selain itu Anna juga sudah bisa mengukur nyali para politisi lokal Bojonegoro. Terbukti hingga saat ini belum ada seorang tokohpun yang berani secara terus terang menyatakan diri secara terbuka berani bersaing dengan dirinya, termasuk para ketua partai.

Partai partai politik selain partai yang dipimpinnya hanya terkesan wait and see. Dalam bacaan seorang politisi, sikap politik partai yang ambivalen ini adalah sebuah peluang untuk menguasai opini publik, bahwa hanya ada satu calon yang berani dan serius untuk maju sebagai pemimpin. Dan Anna telah melakukan itu.

Secara psikologis, sepertinya Anna dan tim tentunya juga sudah membaca sikap para politisi lokal yang terkesan “imbas imbis”.

Maka bukan suatu yang mustahil jika untuk mewujudkan ambisinya, Anna akan memborong partai dan hanya menyisakan kurang dari 20 % suara atau kurang 10 kursi DPRD.

Sebab untuk bisa memberangkatkan calon bupati harus memiliki minimal 20 persen atau 10 kursi DPRD. Artinya Anna akan menyisakan menyisakan 9 kursi saja yang tidak akan dia sentuh.

Nah partai apa sajakah yang tidak akan dibeli beli Anna? Mari kita tonton dengan seksama karena warga Bojonegoro bisanya hanya nonton dan koment di wa group . Salam waras….😀😀

*penulis adalah seorang pengangguran yang sok menjadi aktivis sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *