Tafakkur Muharram : Menguji Nurani Antara Fakta Kemiskinan dan Mentalitas “Fakir Buatan”

Ibnu Khakim
Ibnu Khakim

Oleh : Ibnu Khakim, MHI *)

Bulan Muharram identik dengan kemuliaan yang menonjol dibanding bulan lainnya, effort lahir dan batin meningkat signifikan dan sangat terasa di Masyarakat kita, mulai puasa akhir dan awal yahun, tasu’a dan asyura, serta berbagai kegiatan sosial penuh makna dan pahala, semisal santunan kaum dhuafa dan anak yatim, serta fakir miskin.

Fenomena orang mampu yang mengaku miskin demi bantuan sosial atau santunan telah mencederai rasa keadilan sosial di Masyarakat. Perilaku manipulatif ini tidak hanya merebut hak kaum duafa, tetapi juga merusak tatanan moral bangsa. Tulisan mencoba ini membedakan secara tegas antara kemiskinan rill dengan mentalitas miskin.

1. Hakikat Miskin Menurut Islam: Menjaga Kehormatan Diri (Iffah)

Dalam tradisi fikih yang diikuti oleh Nahdlatul Ulama, kemiskinan dilihat sebagai ujian hidup, bukan sebuah kehinaan. Kaum duafa yang sejati adalah mereka yang tetap menjaga kehormatan dirinya (iffah) dari meminta-minta. Allah SWT memuji orang-orang miskin yang tidak mau mengemis dalam Surah Al-Baqarah ayat 273:

“(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya di jalan Allah); mereka tidak dapat berpindah-pindah di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menegaskan bahwa memalsukan data kemiskinan hukumnya haram. Mengambil bansos yang bukan haknya termasuk dalam kategori ghashab (mengambil hak orang lain secara zalim) dan memakan harta secara batil. Harta yang diperoleh dari jalur manipulasi tersebut berstatus sebagai harta haram.

2. Fenomena “Pura-Pura Miskin”: Ancaman Spiritual dan Hilangnya Qana’ah

Pura-pura miskin demi materi adalah cerminan dari penyakit hati (amradlul qulub) yang akut, seperti tamak dan hilangnya sifat qana’ah (merasa cukup). Rasulullah SAW secara keras memperingatkan orang yang sengaja meminta-minta atau mengaku miskin padahal ia berkecukupan. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, beliau bersabda: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kefakiran, maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, diperingatkan bahwa mentalitas pura-pura miskin justru akan mendatangkan kemiskinan yang nyata: “Siapa saja yang membuka pintu meminta-minta tanpa adanya kebutuhan mendasar, maka Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan (yang sesungguhnya).”

3. Kearifan Lokal Indonesia: Filosofi “Harga Diri” yang Bergeser

Nusantara kaya akan nilai-nilai luhur yang mengajarkan kemandirian dan rasa malu (isin). Tepo Seliro, Gotong Royong, Mangan ora mangan kumpul, Mengutamakan kebersamaan & harga diri dibanding materi.

Dahulu, masyarakat Nusantara menganggap kemiskinan sebagai hal yang tabu untuk dipamerkan karena menyangkut harga diri keluarga. Hari ini, nilai tersebut bergeser menjadi mentalitas “miskin demi subsidi”. Krisis Tepo Seliro, yakni sikap abai terhadap tetangga yang benar-benar kelaparan demi keuntungan pribadi menunjukkan pudarnya rasa tenggang rasa (tepo seliro) dalam kehidupan gotong royong.

4. Solusi Konstruktif : Rekonsiliasi Moral dan Ketegasan Regulasi

Untuk memutus rantai mentalitas “fakir buatan” ini, kita perlu merenungkan nasihat dari Hadratusussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’allim, yang menekankan pentingnya kejujuran dan menjaga diri dari sifat serakah (thoma’).

Kemiskinan harta bisa diatasi dengan bantuan ekonomi. Namun, kemiskinan mental berupa pura-pura miskin hanya bisa disembuhkan dengan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan pengembalian jatidiri bangsa yang jujur serta bermartabat dan agar doa si miskin tetap mustajab dan menjadi pertahanan akhir akan tetap turunnya Rahmat Alloh Swt di muka bumi.

 

*) Penulis Ibnu Khakim, MHI,  adalah Intelektual Muda, Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *