Tiga Hal Yang Dilakukan oleh Orang Ingat Mati, Apa Itu? 

JagatSembilan.com | Bojonegoro – KH. A. Nailin Fauz Misbah Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Ngasem menjelaskan, ada tiga hal yang dilakukan orang ketika ingat mati. Pertama Takjilu At Taubah atau menyegerakan bertaubat, tidak menunda nunda taubat

“Karena kematian bisa datang kapan saja, jangan sampai. meninggal tapi belum sempat bertaubat,” kata Gus Faus sapaan akrabnya.

Kedua orang yang ingat mati akan Juhdun Lil ibadah atau bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ibadah.

“Hal itu karena bekal manusia hidup setelah lematian adalah amal yang Sholih. Harta kita tinggalkan, rumah mewah kita tinggalkan, jabatan kita tinggalkan, mobil dan sawah kita tinggalkan. Yang kita bawa mati adalah amal kebajikan,” tegas Gus Faus.

Kemudian yang ketiga orang kalau ingat mati Qonaatul Qolbi. Hati orang yang ingat mati itu nerimo ing pandum (menerima pemberianNya dengan iklas.red).

“Dikasih hidup miskin tetep bersyukur, dikasih kaya juga harus bersyukur, tidak mengeluh serta ridho dengan ketentuan Allah, semua ada hikmahnya,” jelas Gus Fauz yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asy Syakur 3 Nglingi itu.

Pada kesempatan itu Gus Faus juga menceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW wafatnya diusia 63 tahun. Maka dari itu kita harus ingat kematian.

“Kita berada di penghujung tahun 2023. Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2023 dan memasuki tahun baru 2024. Tahun baru tahunnya bertambah, usianya bertambah tapi jatah umur kita berkurang. Maka tahun baru adalah momentum untuk mengingat kematian(dzikrul maut) kemudian isti’dad lil maut, mencari bekal kehidupan setelah mati.” pungkas Gus Fauz.

Gus Fauz menyampaikan itu semua saat mengisi mauidhoh hasanah acara rutin Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat dan Fatayat Kecamatan Ngasem hari Minggu, (24/12/2023). Acara itu dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Fatihul Huda Desa Sambong Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Dalam acara itu juga dimeriahkan gebyar sholawat yang dihadiri oleh Ustadz Mundzib dan Grop Hadroh Al Lumayan dari desa Dukohkidul Kecamatan tersebut.

Sri Mumpuni salah satu Panitia pelaksana kegiatan rutinan itu menjelaskan, bahwa yang hadir pada kegiatan tersebut berjumlah kurang lebih 3000 jamaah yang terdiri dari Muslimat NU, Fatayat NU dan IPPNU.

“Rutinan ini merupakan wadah untuk menjaga kekompakan dan silaturahim warga NU Ngasem”, tambahnya Bu Mumpuni panggilan akrabnya.

Sementara itu Hj. Binti Hisbiati Ketua PAC Muslimat NU Ngasem dalam sambutannya mengatakan, jadilah Ibu yang baik, Ibu yang menjadi contoh kepada anak-anak.

“Dengan adanya hari ibu kemarin kita bisa menjaga diri, menjadi ibu yang sholihah, mendidik putra-putri kita dan semoga menjadi putra-putri yang sholih dan sholihah,” kata Hj. Binti Hisbiati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *