JagatSembilan.com | Bojonegoro — Kegiatan Umbul Dungo Ruwat Nuswantoro yang digelar Majlis Dzikir dan Sholawat Mocopat Njeng Sunan di kawasan Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, berlangsung hingga malam hari, Sabtu (19/07/2025). Rangkaian acara yang dipenuhi nilai spiritual dan budaya ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Bojonegoro, yang memberikan sambutan di hadapan peserta ruwatan.
Selain Wakil Bupati, sejak siang hingga malam, kegiatan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Istiadi Suhartono selaku Ketua Njeng Sunan Bojonegoro, drg. Sofan Solikin selaku Ketua Panitia sekaligus Direktur RS Muslimat NU Muna Anggita dan tokoh Dewan Kebudayaan Bojonegoro, Kang Zen dari Wahana Budaya, serta perwakilan dari berbagai keraton seperti Keraton Surakarta dan Mangkunegaran. Hadir pula Mbah Lawu dari Gunung Lawu, jajaran Pemerintah Desa Sendangharjo, serta mahasiswa KKN-TK Kelompok 18.
Malam harinya, suasana semakin syahdu dengan penampilan tari sufi yang menggambarkan keindahan dan keheningan dalam laku spiritual. Prosesi ruwatan tetap berlangsung khidmat, disertai lantunan doa dan semangat persatuan dari seluruh elemen yang hadir.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bojonegoro menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan ruwatan ini. Ia menilai Bojonegoro sebagai tempat yang tepat untuk memulai kegiatan sakral seperti ini, mengingat nilai sejarah dan spiritualitas yang dimiliki wilayah ini.
“Bojonegoro tepat dijadikan tempat awal sebuah acara ruwat karena Bojonegoro sendiri terbilang salah satu kabupaten yang tertua di Jawa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan keberadaan Kayangan Api dengan warisan leluhur yang diyakini sebagai tempat para empu menempa senjata bagi kerajaan-kerajaan tua.
“Bahkan zaman dulu, Kayangan Api ini kita percaya dijadikan tempat pembuatan senjata oleh para empu dan kerajaan tua. Di Kayangan Api juga ada pohon cinta. Selain unsur api, ada juga unsur air dibantu blekutuk, angin segar, dan tanah yang subur. Kayangan Api memiliki semua unsur itu,” lanjutnya.
“Semoga Bumi Indonesia, khususnya Bojonegoro, selalu diberi kebahagiaan, keselamatan, dan kerukunan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia drg. Sofan Solikin menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menjadi ruang pemersatu energi perbedaan menuju keharmonisan membangun bangsa dan daerah.
“Ruwat Nuswantoro ini bertujuan menyatukan pandangan yang berbeda sehingga menjadi satu kesatuan energi untuk membangun bangsa dan negara, khususnya Bojonegoro. Keempat energi itu diibaratkan api, udara, air, dan tanah. Bojonegoro dipercaya memiliki unsur api yang tertua dan terbesar di Jawa, dan khasnya, apinya mengumpul jadi satu kesatuan. Semoga ini menjadi berkah bagi masyarakat Bojonegoro,” ujar drg. Sofan.














