JagatSembilan.com | Lamongan – Dalam rangka memperingati Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Ranting NU bersama Ta’mir Masjid NU Munawarotul ‘Ulum Keben menggelar kegiatan ziarah ke makam para muassis (pendiri) NU dengan tujuan Gresik, Surabaya, dan Pasuruan. Sabtu (14/02/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program rutin ta’mir masjid sekaligus momentum refleksi atas jejak perjuangan para ulama pendiri jam’iyah.
Sebanyak 160 peserta diberangkatkan menggunakan delapan armada bus. Rombongan terdiri dari jajaran PRNU, jamaah Masjid NU Munawarotul ‘Ulum, serta badan otonom perempuan yakni Fatayat NU dan Muslimat NU.
Acara pelepasan secara resmi dibuka oleh KH. Ali Aziz, dengan doa dipimpin oleh KH. Husaini. Dalam sambutannya, KH. Ali Aziz menegaskan bahwa ziarah muassis bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga ikhtiar memperkuat sanad keilmuan dan perjuangan.
“Ziarah ini adalah bentuk penghormatan sekaligus penguatan komitmen kita terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang diwariskan para pendiri NU. Kita ingin generasi hari ini tidak terputus dari mata rantai perjuangan para kiai,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum satu abad NU harus dimaknai sebagai titik konsolidasi organisasi dan penguatan peran sosial-keagamaan di tengah masyarakat. “Seratus tahun NU adalah usia kematangan. Tugas kita hari ini bukan hanya merawat tradisi, tetapi juga memastikan keberlanjutannya dengan kontribusi nyata,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua PRNU Ta’mir Masjid Munawarotul ‘Ulum Keben menyampaikan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda rutin sebagai bagian dari pembinaan jamaah. “Alhamdulillah, antusiasme warga sangat tinggi. Delapan armada terisi penuh. Ini menunjukkan kecintaan jamaah kepada para muassis NU dan semangat menjaga tradisi ziarah sebagai bagian dari amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.
Rute ziarah meliputi sejumlah makam ulama pendiri dan tokoh penting NU di wilayah Gresik, Surabaya, dan Pasuruan. Selain berziarah, rombongan juga mengisi kegiatan dengan pembacaan tahlil, doa bersama, serta refleksi sejarah perjuangan para kiai.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya mempererat ukhuwah antarjamaah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran historis dan spiritual tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan serta nilai-nilai kebangsaan yang telah dirintis para ulama pendiri NU sejak awal berdirinya.(Eka)













