Oleh : Choirul Anam
JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pernah nggak sih kamu berpikir, apa sih sebenarnya arti sahabat? Kalau menurut saya, sahabat itu seperti shuttlecock dalam permainan bulu tangkis—terus terbang bolak-balik di antara kita, membangun ritme, saling mengisi, dan nggak pernah membiarkan bola jatuh. Tapi, tunggu dulu. Sahabat itu nggak cukup cuma hadir. Mereka harus koheren.
“Koheren” mungkin terdengar agak berat, ya? Tapi sebenarnya, maknanya sederhana: selaras. Seperti tim ganda bulu tangkis yang paham kapan harus mundur, kapan maju, kapan kasih smash, kapan kasih bola pelan. Kalau nggak koheren, ya siap-siap aja jadi bahan ketawa di lapangan karena kok jatuh di tengah.
Baru-baru ini, di GOR Dolokgede, Tambakrejo, Bojonegoro, saya lihat sendiri bagaimana filosofi sahabat dan koherensi itu diwujudkan lewat olahraga. Ketua Umum GP Ansor, Gus Addin Jauharuddin, datang lagi ke kota ini—yang kedua kalinya, loh! Tapi kali ini nggak sendirian. Beliau bawa “skuad inti” lengkap: Sekjen Gus Ahmad Rifqi Al Mubarok, Kasatkornas Gus Syafiq Sauqi, Ketua Korwil Jatim H. Hasan Bisri, dan Ketua PW Ansor H. Musyaffa Safril. Misinya? Main badminton bareng sahabat-sahabat Ansor di Bojonegoro.
Mungkin ada yang berpikir, “Yaelah, main badminton doang. Apa spesialnya?” Tapi percaya deh, acara ini lebih dari sekadar olahraga. Ini adalah soal merajut kebersamaan, memperkuat sinergi, dan tentunya, menghibur diri di tengah kesibukan organisasi.
Di lapangan, saya melihat sendiri bagaimana Gus Addin dan sahabat-sahabatnya bermain. Mereka bukan cuma saling oper kok, tapi juga saling oper tawa dan semangat. Ada momen ketika Kasatkornas Gus Syafiq bikin smash keras yang malah kena net. Bukannya kesal, semua malah ketawa. “Netnya nggak kooperatif!” celetuknya sambil nyengir.
Itulah inti dari sahabat yang sesungguhnya. Mereka nggak cuma hadir di saat kamu menang, tapi juga ada untuk menertawakan kesalahanmu (dengan penuh kasih sayang, tentu saja).
Koherensi di lapangan badminton itu ibarat napas. Kalau nggak sinkron, habis sudah. Tapi di GOR Dolokgede kemarin, semua berjalan mulus. Bukan cuma permainan yang kompak, tapi juga hubungan antara pusat dan daerah dalam organisasi.
Di sela-sela pertandingan, Gus Addin sempat bilang, “Koherensi itu penting. Kalau kita nggak selaras, baik di lapangan atau dalam organisasi, yang rugi bukan cuma kita, tapi semua orang di sekitar kita.” Kata-katanya sederhana, tapi dalem.
Coba bayangkan kalau GP Ansor nggak koheren. Pusat bikin kebijakan, daerahnya nggak jalan. Daerah punya ide bagus, pusat nggak dukung. Yang ada, organisasi jadi kayak tim ganda yang main masing-masing kalah sebelum bertanding.
Tapi, hei, ini bukan acara serius-serius banget. Ada banyak tawa yang menghiasi GOR Dolokgede. Seperti momen ketika Ketua Korwil Jatim, H. Hasan Bisri, coba drop shot tapi malah terpeleset. Atau ketika Sekjen Gus Ahmad Rifqi kehilangan kok gara-gara silau lampu GOR. “Lampunya kayaknya ikut tim lawan, nih!” ujarnya, bikin semua orang ngakak.
Di luar semua kekonyolan itu, ada pelajaran besar yang bisa kita ambil. Bahwa koherensi itu nggak harus selalu kaku dan formal. Kadang, justru dalam tawa dan peluh itulah kehangatan sahabat terbangun.
Smash Persahabatan untuk Masa Depan
Acara ini mungkin cuma berlangsung beberapa jam, tapi dampaknya terasa lebih lama. Di lapangan itu, sahabat-sahabat Ansor menunjukkan bahwa kebersamaan bukan cuma soal hadir di satu tempat, tapi juga tentang selaras dalam tujuan dan langkah.
Seperti permainan bulu tangkis, hidup ini juga tentang memahami ritme. Kadang kamu harus menyerang, kadang bertahan. Tapi yang terpenting, kamu punya sahabat yang koheren untuk mendukungmu, baik di lapangan maupun di luar.
Jadi, kalau ada yang tanya, apa arti sahabat? Jawabannya sederhana: mereka adalah orang-orang yang bikin kamu tetap semangat, yang bikin kamu yakin setiap smash yang kamu lakukan punya tujuan. Smash!













