Opini  

PERCAYA (KEMBALI) PADA TAKDIR

Oleh : Ibnu Khakim, M.HI

Problematika ketuhanan merupakan problem universal yang selalu ada dalam babakan sejarah manusia, sehingga problema ketuhanan tetap dianggap sebagai tema pokok dalam sejarah filsafat. Masalah Tuhan berada pada tingkat pertama spekulasi filosofis. Relasi Tuhan dengan manusia maupun alam merupakan fenomena baru masyarakat modern dalam memahami Tuhan, sehingga pendekatan epistemologis menjadi sebuah keharusan.

Tuhan dipahami dalam perspektif antroposentris dengan titik tekan pada relasi antara Tuhan dengan manusia dan alam. Relasi antara Tuhan dengan manusia menimbulkan pemikiran-pemikiran yang secara filosofis cenderung imanen pada satu sisi dan transenden pada sisi yang lain, bahkan menimbulkan pemikiran yang menganggap bahwa Tuhan itu imanen sekaligus transenden. Relasi keduanya yang melahirkan konsep imanensi dan transendensi ini dalam perkembangan berikutnya menimbulkan paham-paham ketuhanan yang menjadi perdebatan di antara paham-paham tersebut.

Tuhan dianggap sebagai imanen sekaligus transenden bagi penganut teisme. Tuhan dianggap sebagai transenden terhadap alam dan manusia bagi kaum Deisme. Tuhan dianggap sebagai yang imanen bagi kaum panteisme. Di samping itu, ada juga yang pesimis bahwa akal manusia bisa menjangkau Tuhan sebagaimana kaum agnostisisme.

Filsafat ketuhanan berurusan dengan pembuktian kebenaran adanya Tuhan yang didasarkan pada penalaran manusia. Filsafat ketuhanan (teologi naturalis) tidak mempersoalkan eksistensi Tuhan, disiplin tersebut hanya ingin menggarisbawahi bahwa apabila tidak ada penyebab pertama yang tidak disebabkan maka kedudukan benda-benda yang relatif-kontingen tidak dapat dipahami akal. Dari hal tersebut, ada beberapa macam pembuktian filosofis yang berusaha membukakan jalan-jalan menuju Tuhan; yaitu pembuktian ontologi, kosmologi, teleologi, moral, Henelogical argument dan ini sekaligus merupakan kelebihan pendekatan filsafat dibanding dari pendekatan agama maupun ilmu di atas. Ilmu terbatas pada pembuatan deskripsi yang didasarkan atas pengalaman empirik sedangkan agama berangkat dari keyakinan terhadap satu doktrin.

Pembuktian adanya Tuhan tidak hanya menjadi perbincangan para filosof Barat, tetapi juga menjadi pembicaraan para filosof dan teolog Muslim, seperti yang dilakukan oleh para filosof dan teolog Muslim.

Dalam Islam, sebagaimana telah disepakati para Ulama’, bahwa takdir adalah kadar dan ukuran, yakni ukuran batasan kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluknya. Dalam teologi Islam (ilmu tauhid), takdir adalah istilah yang merujuk pada qadla’ atau keputusan Allah yang telah tertulis di lauh mahfudz sejak sebelum dunia tercipta. Semisal Firman Allah Swt : “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid: 22). dan juga : “Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (lauh mahfuzh),” (QS. Saba’: 3). Rasul Saw juga bersabda : “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).

Dewasa ini sebagian kalangan, bahkan dari meraka adalah penganut Agama yang taat, namun menjadi gamang dan ragu-ragu memegang suatu kebenaran, dikarenakan silau dengan kedudukan, harta benda dan kematerialan lainnya. Hal ini tentu bukanlah tanpa sebab dan terjadi tiba-tiba, akar masalahnya adalah mereka selalu mengedepankan rasional dan empiris yang mestinya menguatkan iman dan keyakinan, berubah arah menjadi penyebab pendangkalan keduanya.

Dalam realita kehidupan orang yang berkedudukan tinggi merasa bisa mengatur segalanya, orang yang mempunyai harta melimpah, dapat mewujudkan segalanya, hal ini sebenarnya bukan serta merta salah, namun tidak adanya Tuhan dalam benak mereka inilah yang menjadi titik persoalan, karena memang secara skill individu, mereka kurang baik dalam mempelajari dan memahami Agama yang mereka anut.

Memperjuangkan suatu hal yang kita yakini benar, dan menempuhnya dengan cara benar, adalah satu-satunya jalan agar kebenaran tetap ada dan tegak di muka bumi, meskipun banyak fakta, yang menang dan berkuasa terkadang bukan si pemegang kebenaran, namun mereka yang mempunyai kedudukan dan harta.

Namun kabar gembira datang dari Agama kita, bahwa Alloh Swt ternyata tidak melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah saja, ternyata Dia melihat dimana kita berpihak, meskipun belum menang, namun kita berpihak pada kebenaran, maka surga dan ridho_Nya pasti kita dapatkan, sebaliknya walaupun kita menang dan berkuasa, namun berada pada pihak yang salah dan memutarbalikkan fakta, maka sejatinya, kita sedang digiring menuju kesengsaraan dan neraka Alloh Swt.

Sebagai muslim, kita meyakini betul Firman Allah Swt : ”Mereka melakukan tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. ” (Ali Imron ; 54).
Kini, berbagai hal dan tugas berada dihadapan kita, sekali lagi, bukan pure masalah menang atau kalah, banyak pendukung atau minim dukungan, melimpah finansial atau ngalap_nyaur, namun keperpihakan kita kepada suatu hal yang kita perjuangkan, akan menentukan nasib kita baik di dunia maupun di akhirat. Karena campur tangan Tuhan selalu menyertai kita. Karena mempercayai takdir, adalah salah satu rukun iman kita. Selamat berjuang dengan penuh keyakinan !

*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *