Oleh : H. Yonathan Wegig Supranjono
Jangan kaget jika ke Jepang bertemu tenaga kerja lansia, mulai sopir taksi, pelayan hotel dan restoran, tukang sampah, pekerja kantor di semua kota di Jepang seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Nagoya, Yokohama dll.
Pemerintah Jepang menerbitkan peraturan bahwa Lansia boleh bekerja lagi sampai kapanpun, dengan gaji lebih banyak dan waktu kerja lebih pendek. Karena tidak ada pemuda usia produktif yang tersedia sebagai SDM.
Jika ada anak mudia usia produktif dan bekerja maka 80% adalah pekerja dari luar negeri terutama India, ini yang saya temui di kota besar di Jepang. Mereka mahir berbahasa Jepang dan ada di semua toko, resto, jasa tour. Jepang tahun ini kebanjiran 60 juta wisatawan dan perlu melakukan segalanya untuk pelayanan.
Jepang adalah negara maju di Asia yang saat ini sedang mengalami krisis populasi paling fatal, ada ketimpangan jumlah anak muda vs lansia, dikutip dari Kementerian dalam Negeri dan Komunikasi Jepang 15 September 2024;
Jumlah penduduk Jepang per 1 Januari 2024 adalah 124.9 juta jiwa dengan komposisi lanjut usia 65 tahun keatas sebanyak 36.25 juta jiwa atau 29.3%
Sedangkan pada 1 April 2024, jumlah populasi anak di Jepang diperkirakan mencapai 14,01 juta, merupakan penurunan selama 43 tahun berturut-turut.
Pada tahun 2023, jumlah bayi yang lahir di Jepang adalah 758.631, turun 5,1% dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2024, jumlah pernikahan di Jepang adalah 489.281, turun 5,9% dari tahun sebelumnya.
Pemerintah Jepang memproyeksikan bahwa populasi Jepang akan turun sekitar 30% menjadi 87 juta pada tahun 2070.
Data tersebut butuh dijawab dengan peran Ansor Diaspora, vokasi dan magang di Jepang harus digenjot secara serius. Modal kita Pemuda Indonesia luar biasa besar dan dibutuhkan saluran dan pelatihan untuk dikirim ke Jepang.
Penulis adalah H. Yonathan Wegig Supranjono Kepala Asisten VI Informasi dan Komunikasi Satkornas BanserĀ














