Opini  

BUDAYA MUDIK DAN IDUL FITRI KIWARI

Nono Warnono bersama keluarga dalam momen satu kesempatan sebagai ilustrasi budaya mudik dan silaturahmi
Nono Warnono bersama keluarga dalam satu kesempatan, merepresentasikan makna silaturahmi dalam budaya mudik.

Oleh : Nono Warnono

Mudik bukan sekedar ritus tahunan, melainkan mobilitas sosial terbesar yang menggerakkan bangsa secara serentak yang melalui Survey Angkutan Lebaran 2026 memprediksi 143,9 juta orang. Sekala sebesar itu menjadikan mudik sebagai salah satu pergerakan manusia terbesar di dunia. Tidak hanya melibatkan alat transportasi masif, logistik berlipat ganda, namun juga kental dengan nuansa religi dan budaya.

Ritus mudik lebaran yang akrab dengan kemacetan, merupakan fenomena sosial yang mengakar kuat dalam budaya Indonesia. Pulang kampung pada hari raya melampaui logika efisiensi perjalanan karena menyangkut silaturahmi, kembali kepada orang tua serta merawat ikatan keluarga yang sering terpisah oleh jarak pun pekerjaan. Tak peduli horornya kemacetan, dan hiruk pikuk pergerakan manusia. Meski pemerintah telah membangun jalan tol lebih panjang, namun penambahan kapasitas jalan justru memicu perjalanan baru sehingga kemacetan kembali muncul. Semakin panjang jalan tol dibangun, semakin banyak kendaraan yang mengisinya. (Anthony Downs, Stuck in Traffic, 1992).

Budaya mudik adalah mobilitas sarat emosi, pola perjalanannya tidak selalu mengikuti logika distribusi perjalanan ideal. Mobilitas yang terkonsentrasi pada waktu-waktu simbolik, yakni hari-hari menjelang lebaran dan beberapa hari pascalebaran.

Mudik bukan sekedar soal memindahkan jutaan manusia dari satu kota ke kota lain, tetapi lebih sebagai mengelola mobilitas bangsa yang bergerak serentak dalam ruang, waktu, dan makna yang sama.

Pertanyaan yang mengemuka, mengapa fenomena tersebut selalu terulang pada momentum lebaran? Banyak perspektif dari berbagai tokoh agama dan tokoh budaya yang menjelaskan bahwa mudik idul fitri telah menjadi budaya Indonesia yang berkelindan dengan nilai religiusitas dalam melestarikan ikatan silaturahmi.

Sebagai sebuah fenomena religiusitas dan budaya, pemerintah dituntut untuk mengelola mudik dengan langkah-langkah dan kebijakan strategis. Dari momentum tersebut dapat dijadikan parameter, bagaimana sebuah bangsa mengelola kerinduan jutaan warganya yang pulang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Pergeseran Makna Budaya Mudik dan Silaturahmi Kiwari

Di Indonesia momentum idul fitri tak lepas dari budaya lebaran dalam bentuk unjung-unjung saling meminta maaf, berkunjung sungkem sesepuh, sanak saudara, dan tetangga. Budaya sertaan idul fitri yang tidak ada di negara lain. Silaturahmi bermaafan merupakan interaksi sesama manusia (hablum minannas) yang merupakan kearifan lokal (local wisdom) Indonesia. Meski Islam memberikan perspektif silatirahmi, namun manifestasinya berbeda anatara muslim Indonesia dengan pengejawantahannya secara global.

Di mayoritas muslim dunia, pasca shalat idul fitri tak ada lagi ritual sanja-sinanjan (saling berkunjung) untuk saling meminta maaf, namun di Indonesia pasca shalat idul fitri justru hiruk pikuk perayaan menjadi agenda puncak pasca Ramadhan.

Momentum puasa Ramadhan yang puncaknya ditandai lebaran tidak sekedar peristiwa keagamaan biasa. Ia menjadi pengungkit ekonomi dengan meningkatnya laku konsumerisme. Ia menjadi kesempatan mengasah kecerdasan sosial untuk saling berbagi, meruahnya takjil di saat berbuka dan tadarus Al-Qur’an, masifnya infaq dan zakat kepada para dhuafa dan asnaf yang berhak menerima. Ia merekatkan tua muda dalam bingkai silaturahmi, mengakui kesalahan tanpa paksaan, meneguhkan kekeluargaan dan persaudaraan dengan saling berkunjung silih berganti.

Di era disrupsi teknologi digital, perayaan idul fitri kiwari (kontemporer) disinyalir ada pergeseran makna. Kawuri (dahulu) silaturahmi idul fitri meniscayakan berinteraksi hadir secara langsung dengan face to face berjabat tangan sambil mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”, di Jawa menyertakan ucapan: “ngaturaken sedaya kalepatan”. Kepada yang lebih sepuh disertai sungkem sembari bertutur “nyuwun agunging pangaksami”. Yang tua memberikan pangestu dan doa, semoga lulus sekolahnya, sukses pekerjaannya, hingga semoga cepat jodohnya, dan ungkapan-ungkapan lain yang bermakna doa.

Kini, berlebaran idul fitri banyak yang cukup melalui beberapa platform media sosial dengan narasi, audio, maupun video (video call dan sejenisnya). Memang cara demikian tidak ada yang salah, namun dari dimensi norma dan tatakrama berlebaran melalui jagat ratmaya tanpa tatap muka serasa ada yang tereduksi maknanya.

Saat masa kecil penulis di tahun 70-80 an, berlebaran dengan bertandang langsung kepada keluarga, tetangga, guru, dan kiai menjadi keharusan. Mencicipi jajan suguhan tuan rumah menjadi kenikmatan penuh makna, senyum tetua menjadi doa yang merasuk dalam jiwa.

Kini pasca hari raya, mej-meja masih penuh kue lebaran yang tak sempat terkonsumsi karena semakin surutnya orang-orang beranjangsana. Generasi kiwari lebih sibuk mengunggah foto selfi baju baru, atau ngopi-ngopi di destinasi wisata. Budaya unjung-unjung telah secara pepan-pelan tergantikan kecanggihan tehnologi dan tereduksi ego diri.

Beruntunglah siapa saja yang di era kiwari masih bersilaturahmi di momen idul fitri dengan saling mengunjungi. Sungguh silaturahmi memberkahi umur, melapangkan rejeki.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna waminkum. Siyamana wasiyamakum, kullu amin waantum bikhair.

 

*) Penulis adalah Nono Warnono, Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) juga aktif sebagai pengisi opini di JagatSembilan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *