JagafSembilan.com | Bojonegoro – Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro terus berinovasi dalam mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi di dunia pendidikan. Salah satunya adalah melalui program pendampingan untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis Metaverse, yang dilaksanakan di beberapa sekolah di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini dilaksanakan mulai 20 September hingga 19 November 2024 di beberapa sekolah, yakni SMPN 1 Bojonegoro, SMPN 2 Bojonegoro, SMPN 1 Sumberrejo Bojonegoro, SMPN 4 Bojonegoro, dan MTs Plus Miftahul Ulum Balen Bojonegoro.
Program ini merupakan bagian dari upaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran materi agama Islam. Dalam hal ini, guru dan siswa diperkenalkan dengan penggunaan VR Box sebagai media pembelajaran dalam memahami konsep-konsep agama Islam, seperti zakat fitrah, zakat mal, serta ibadah haji. Teknologi Metaverse yang digunakan dalam program ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan daya tarik pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis tetapi juga pengalaman praktis yang lebih mendalam.
Ketua tim pengabdian, Ahmad Shofiyuddin, menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pendampingan dan pelatihan kepada para guru di sekolah-sekolah tersebut agar mereka dapat memanfaatkan teknologi VR Box dalam proses belajar mengajar.
“Kami ingin memberikan pengalaman baru bagi guru dan pelajar di Bojonegoro, khususnya dalam pembelajaran agama Islam. Dengan memanfaatkan teknologi VR, diharapkan mereka dapat lebih mudah memahami materi yang sebelumnya mungkin terasa abstrak atau sulit diterima secara konvensional,” ujarnya. Selasa (19/11/2024).
Ahmad Shofiyuddin, yang juga merupakan dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UNUGIRI Bojonegoro, mengungkapkan bahwa penggunaan VR Box dalam pembelajaran agama Islam, terutama untuk materi zakat dan haji, memberikan dimensi baru yang sangat menarik. Siswa dapat merasakan simulasi perjalanan haji atau melihat secara langsung bagaimana zakat fitrah dan zakat mal dibagikan kepada yang berhak, yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan melalui penjelasan di kelas. Dengan teknologi ini, siswa dapat berinteraksi dengan materi pelajaran secara lebih nyata dan menyeluruh.
Pendampingan yang dilakukan oleh dosen UNUGIRI tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga pada bagaimana memanfaatkan VR Box sebagai alat untuk menjelaskan konsep-konsep agama Islam secara lebih efektif. Para guru juga dilibatkan dalam proses pelatihan ini, agar mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengoperasikan perangkat VR dan mengintegrasikannya dalam kurikulum yang ada. Hal ini bertujuan agar penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat berkelanjutan dan berkembang dalam jangka panjang.
Sementara itu, Ahmad Muthiuddin, anggota tim pengabdian dan juga dosen dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, menambahkan bahwa program ini juga sebagai bentuk kontribusi nyata UNUGIRI dalam membangun pendidikan yang berbasis teknologi.
“Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UNUGIRI memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memfasilitasi penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan. Kami berharap, pendampingan ini bisa membuka peluang bagi sekolah-sekolah lain di Bojonegoro untuk mengadopsi teknologi serupa dalam kegiatan belajar mengajar mereka,” kata Ahmad Muthiuddin.
Sambutan positif datang dari pihak sekolah yang terlibat dalam program ini. Salah seorang guru agama Islam di SMPN 1 Bojonegoro, Khoirul Azmi, mengungkapkan antusiasmenya terhadap penggunaan VR Box dalam pembelajaran. Menurutnya, teknologi tersebut sangat membantu siswa dalam memahami materi yang tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga bisa dihadirkan dalam bentuk visual yang lebih hidup dan menarik.
“Anak-anak sangat senang dan bersemangat ketika mencoba VR Box ini. Mereka bisa merasakan langsung simulasi ibadah haji dan itu sangat menarik bagi mereka,” kata Azmi.
Selain itu, penggunaan teknologi ini juga diharapkan dapat memperkaya metode pembelajaran yang ada, mengingat bahwa siswa di era digital ini sangat familiar dengan teknologi. Dengan demikian, pendampingan ini bukan hanya sekadar untuk memperkenalkan teknologi, tetapi juga untuk menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam belajar agama Islam dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami.
Program pendampingan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Bojonegoro dan daerah sekitar untuk mengadopsi teknologi dalam pembelajaran, khususnya di bidang agama Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi Metaverse diyakini akan semakin menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan, memberikan kesempatan bagi para siswa untuk belajar dengan cara yang lebih interaktif dan immersif. Dengan demikian, diharapkan generasi muda Bojonegoro dapat semakin siap menghadapi tantangan di masa depan dengan pemahaman agama yang kuat dan teknologi yang mumpuni.













