Oleh: Ahmad Rifqi Azmi
Setan menggoda manusia dengan godaan yang berbeda-beda, berdasarkan tingkatan manusia. Godaan setan kepada orang bodoh berbeda dengan godaanya kepada pelajar. Godaannya kepada pelajar juga berbeda dengan godaan ulama. Godaan kepada ulama juga berbeda dengan godaan selain ulama, seperti pejabat, pedagang, dan sebagainya.
Jika manusia itu bodoh, maka setan akan menggodanya agar dia tetap bodoh. Setan akan membisikkan kepadanya bahwa ilmu agama itu tidak penting, setan juga akan berusaha sebisa mungkin membuat orang bodoh ini benci dan menjauhkan diri dari ulama’. Bisa juga dengan cara membisikkannya bahwa dia adalah orang pandai dan tidak butuh ilmu. Padahal, sebagaimana jasad manusia butuh makanan untuk hidup, ruhpun butuh asupan ilmu untuk hidup.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إلِىَ الطّعَامِ وَالشّرَابِ، لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطّعَامِ وَالشّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ، وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ.
Imam Ahmad berkata, “Ilmu lebih dibutuhkan manusia dibandingkan makanan dan minuman, sebab seseorang sehari butuh makan cukup hanya sekali dua kali, sedangkan kebutuhannya kepada ilmu sebanyak helaan nafasnya.”
Jika manusia itu bisa melewati godaan di atas dan dia berhasil bangkit mencarai ilmu, maka godaan setan berbeda lagi, setan akan menggodanya agar niat ketika mencari ilmu tidak ikhlas. Setan akan membisikkan kepadanya betapa ilmu agama itu sangat prospek untuk digunakan sebagai alat mencari harta dan jabatan. Jika manusia berhasil melewati godaan di atas, maka setan akan mati-matian menggodanya ia tidak fokus dn tidak berhasil mendapatkan ilmu. Jangan sampai ia memperoleh pemahaman yang untuh.
Jika dia berhasil melaluinya lagi, setan akan menggodanya bagaimana caranya agar ia sombong dengan ilmu yang dimilikinya dan menyalahgunakan ilmunya. Setan tidak akan menerima apabila ada satu anak adam yang selamat dari siksa neraka. Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ 16 ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ [الأعراف: 16-17]
(Iblis) berkata, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka; dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A‘raf 16–17)
Jadi, baik manusia punya ilmu maupun tidak punya ilmu, dalam kedua keadaan ini setan akan terus menggodanya sehingga kebodohan ataupun ilmu keduanya merupakan cobaan dari Allah. Apakah manusia berhasil melewati cobaan itu atau tidak.
Ilmu adalah Amanah dari Allah
Ada begitu banyak dalil baik dari al-Qur’an maupun Assunnah tentang keutamaan ilmu. Dalam sebuah hadis, dijelaskan bahwa keutamaan orang yan berilmu dibanding ahli ibadah sebagaimana keutamaan cahaya bulan dibanding bintang-bintang. Dalam hadis lain ilmu merupakan jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir walaupun seorang hamba yang mempunyai ilmu meninggal dunia.
Ilmu merupakan anugrah yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Dengan ilmu, ia dapat mengenal Allah. Dengan ilmu pula ia dapat beribadah kepada Allah. Dengan ilmu ia dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Tanpa ilmu, manusia tidak ada bedanya dengan binatang lainnya.
Meskipun dari satu sisi ilmu merupakan anugrah besar, namun disisi yang lain, ilmu merupakan amanah yang besar pula. Semakin banyak ilmu, maka semakin besar amanah yang diterima. Allah akan menuntut pertanggungjawaban hamba-Nya yang berilmu tentang amanah tersebut.
إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا [الإسراء: 36]
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban (QS. Al-Isra’ 36)
Jika orang yang punya ilmu tidak berhati-hati, maka ilmu justru akan menjadi fitnah dalam berbagai bentuk, seperti ilmu menumbuhkan kesombongan yang mana seseorang merasa paling tahu dan enggan belajar kepada yang lain. Bisa juga ilmu tidak diamalkan, ia hanya menjadi hiasan mulut tanpa pengaruh dalam perilaku. Bisa juga ilmu dijadikan alat dunia, ia kehilangan kemuliaannya dan berubah menjadi sarana mencari harta atau kekuasaan.
1. Ilmu Menyebabkan kesombongan
Kesombongan adalah perasaan di dalam hati yang timbul dari pandangan bahwa diri sendiri berada di atas orang lain yang disombongi. Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat menjauhkan seseorang dari banyak kebaikan. Orang yang sombong tidak akan mau mencari ilmu dan nasehat yang disampaikan orang yang menurutnya di bawah dirinya.
Dalam bahasa arab, sombong disebut al-kibr atau al-takabbur. Imam ghazali membedakan antara keduanya. Menurut beliau, al-Kibr adalah sifat di dalam hati sedangkan takabbur adalah aplikasi sifat tersebut di dalam perbuatan.
Obyek yang disombongi berbeda-beda. Adakalanya obyek yang disombongi adalah Allah, seperti karena manusia merasa pintar, ia merasa bahwa akalnya lebih bisa menentukan kemaslahatan baginya daripada petunjuk Allah Ta’ala, sehingga ia tidak mau mempelajari kalamullah, yakni al-Qur’an. Kesombongan jenis ini tidak akan dialami kecuali oleh orang-orang yang bodoh yang mana setan membisikkan kepadanya bahwa dia adalah orang pintar. Dalam istilah al-Ghazali, orang jenis ini adalah orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa dirinya bodoh.
Bisa juga yang disombongi adalah para rasul, sebagaimana motif tidak masuknya kebanyakan orang-orang kafir di masa Rasulullah saw. Banyak orang-orang kafir saat itu yang tidak mau mengikuti petunjuk Rasul saw. karena merasa mereka lebih bijak, lebih tua, dan lebih mengetahui kemaslahan dirinya, sebagaimana kebanyakan orang-orang kafir seperti Abu Jahal yang tidak mau iman dan menerima petunjuk Nabi saw. sebab mereka meyakini bahwa Rasulullah saw. kedudukannya dibawah mereka.
وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ [الزخرف : 31]
Dan mereka berkata mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu di antara dua negeri ini (Makkah dan Thaif) (QS. al-Zuhruf 31)
Adakalanya obyek yang disombongi adalah manusia biasa selain nabi dan rasul, seperti para ulama’. Ini juga menjadikan ilmu yang dibawa mereka tidak dapat masuk kedalam hati para pencari ilmu. Dalam al-Qur’an Allah menceritakan kisah putra Adam yang tidak segan belajar walaupun kepada burung gagak. Allah Ta’ala berfirman:
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي [المائدة : 31]
Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggalai tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. (Qabil) berkata, “oh celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehinga akau dapat menguburkan mayat saudaraku ini? (QS. al-Maidah 31)
Di dalam al-Quran Allah juga menceritakan kisah Nabi Musa as. yang walaupun derajatnya sangat tinggi sebagai rasul ulul azmi, namun beliau tetap berkenan belajar kepada Nabi Khidhir. Yang mana secara umum Nabi Musa lebih tau, akan tetapi karena ada satu dua ilmu yang mana Nabi Hidhir lebih mengetahuinya, Nabi Musa rela menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berpayah-payah untuk berguru kepadanya.
Di dalam al-Qur’an Allah juga menyuruh mahluk yang paling dicintai-Nya, Rasulullah saw. untuk senantiasa meminta tambahan ilmu dan tidak merasa cukup dengan ilmu yang sudah diperoleh. Allah berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا [طه: 114]
Katakanlah (wahai Muhammad) Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu (QS. Taha 114)
Maka, betapa jauh orang-orang yang menyombongkan ilmunya dari petunjuk al-Quran dan sunnah. Sombong tidak mau mancari ilmu lagi. Sombong tidak mau menerima kebenaran dari orang yang lebih muda. Apa lagi sombong dengan orang-orang bodoh dengan merasa lebih mulia daripada mereka tampa mengamalkan ilmunya. Al-Ghazali berkata:
وَشَرُّ أَنْوَاعِ الْكِبْرِ مَا يَمْنَعُ مِنَ اسْتِفَادَةِ الْعِلْمِ وَقَبُولِ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادِ لَهُ وَفِيهِ
Seburuk-buruk kesombongan adalah kesombongan yang mencegah seseorang untuk mempelajari ilmu, menerima kebenaran, dan tunduk pada kebenaran.
2. Ilmu Untuk Mencari Dunia
Salah satu bentuk fitnah ilmu yang sangat berbahaya lali adalah ketika ilmu tidak difungsikan sebagaimana mestinya, melainkan ilmu justru diperdagangkan untuk kepentingan duniawi. Pada tahap ini, ilmu tidak sesuai peranannya sebagai penunjuk jalan wushul menuju Allah, melainkan ilmu berubah menjadi alat untuk memuaskan hawa nafsu. Jika sebelumnya fitnah ilmu menjadikan kesombongan, maka kini fitnah kali ini menjelma dalam bentuk yang lebih halus namun lebih mematikan: memanfaatkan ilmu demi mencari kedudukan, kekayaan, atau kekuasaan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masa lalu, tetapi juga terulang di setiap zaman. Ilmu yang seharusnya membimbing manusia kepada kebenaran justru digunakan untuk membenarkan kesalahan, menutup-nutupi kezaliman, atau menguatkan kepentingan pribadi.
Dalam sejarah, Al-Qur’an menceritakan sosok yang menjadi simbol kehancuran moral seorang ulama’ yang menjual ilmu untuk dunia, yakni Bal‘am bin Baura’. Ia diberi pengetahuan tentang ayat-ayat Allah dan dikaruniai kedekatan spiritual yang tinggi. Namun ketika nafsu dunia menguasai hatinya, ia melepaskan diri dari cahaya ilmu. Ia menjadi contoh nyata tentang bagaimana ilmu dapat menjerumuskan pemiliknya bila tidak dijaga dengan ketulusan. Allah berkisah di dalam al-Qur’an:
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ 175 [الأعراف: 175]
Bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu ia melepaskan diri darinya; maka setan mengikutinya, dan ia pun termasuk orang-orang yang sesat. (QS. al-A‘rāf: 175)
Mujahid seorang pakar tafsir abad awal berkata dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Bal‘am bin Baura’, seorang dari kalangan Bani Israil. Ia telah diberi Kitab (ilmu dan ayat-ayat Allah), tetapi ia melepaskan diri darinya, lalu ia tunduk kepada hawa nafsu, kesenangan, dan syahwat dunia, sehingga ia tidak mendapatkan manfaat dari ilmu dan Kitab yang telah diberikan kepadanya.
“Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidah, dan jika kamu membiarkannya pun ia menjulurkan lidah.” (QS. al-A‘rāf: 176)
Bal’am adalah orang alim yang fasik. Bal‘am diberi Kitab Allah, namun ia cenderung kepada syahwat dunia. Ia diibaratkan seperti anjing, baik diberi ilmu dan hikmah ataupun tidak, ia tetap menjulurkan lidahnya mengejar syahwat. Ayat ini bukan hanya kisah masa lalu, tetapi peringatan keras bagi siapa pun yang berilmu agar tidak memperalat pengetahuan untuk membenarkan hawa nafsu, kekuasaan, atau kemewahan dunia.
Mari kita jaga amanah ilmu yang Allah berikan untuk kita. Semoga kita semua selamat dari fitnah ilmu.
*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Ketua Aswaja Center PCNU Bojonegoro, Pengasuh Jamaah Sabtu Sore Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, yang juga kolumnis di jagatsembilan.com














