Opini  

Hari Buku Anak, PR Hidupkan Baca di Keluarga

Ilustrasi potret Usman Roin, Dosen Jurnalistik Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri
Usman Roin, Dosen Jurnalistik Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri Bojonegoro

Oleh: Usman Roin *

Hari ini (2/4/26), kita peringati sebagai Hari Buku Anak Sedunia (HBAS). Peringatan ini mungkin asing di telinga kita. Tetapi apapun itu, melihat secara teks “Hari Buku Anak Sedunia” terdapat makna filosofis. Utamanya, apakah kita –sebagai orang tua, sudah mengajak anak-anak menghidupkan baca buku di keluarga? Lalu, apakah setiap bulan kita sudah mengajak mereka untuk kuliner buku lalu dibaca?

Dua pertanyaan ini, butuh dijawab pada peringatan HBAS. Jangan sekadar berhenti dipertanyaan dan luput diaction. Ia juga bisa menjadi evaluasi masing-masing diri yang berkeluarga. Apalagi perihal mengajak membaca anak, sepertinya masih jauh panggang dari api.

Gambaran yang mudah kita temui, coba dilihat masing-masing keluarga kita, antara membelikan anak mainan, menjatah anak beli kuota internet serta uang –jajan, bulanan bagi yang sudah dewasa, so bagaimana dengan buku! Apakah kita sebagai orang tua, mengalokasikan uang kuliner buku sebagimana uang jajan atau membeli mainan?

Jika kemudian belum teralokasikan anggaran kepada anak untuk membeli buku, artinya semangat mengajak mereka membaca di lingkup keluarga “masih” terdapat problematik. Penyebabnya, selain anak jarang dikenalkan perihal membeli buku juga sarana membaca terdekat tidak disediakan.

Alhasil, ketika di keluarga langka dan tidak memiliki buku bacaan sama sekali, maka keluarga sebagai ruang terdekat dan pondasi dasar proses peneladanan membaca juga akan otomatis menemukan kesulitan. Utamanya bagaimana memulai, meningkatkan, lalu memperkuat menjadi perilaku keseharian di mana pun dan kapan pun.

Perlu diingat, pendidik ulung Nabi Muhammad Saw sangat kaya peneladanan, utamanya kepada anak-anak. Diuraikan oleh Iqro’ Al-Firdaus (2019:102-103) dalam buku “Madrasah Nabawiyah”, bila Anas bin Malik mengisahkan sewaktu Nabi bertamu kerumah ayahnya –Anas bin Malik. Sementara, di rumah hanya ada dia, ibunya, dan bibinya bernama Ummu Haram.

“Maukah bila aku mengimami sholat untuk kalian?” tanya Nabi. Padahal, kala itu bukan waktunya sholat fardu.

“Bagaimana Anas diposisikan didekat beliau?” tanya bibi atau ibunya Anas bin Malik.

Nabi kemudian menempatkan Anas bin Malik di kanan beliau dan menempatkan kaum wanita di belakang. Setelah itu, beliau mengimami shalat.

Berdasarkan hadis riwayat Bukhari sebagaimana saya sebutkan di atas, Nabi langsung memberi contoh keteladanan dalam beribadah, khususnya kepada Anas yang masih kecil. Jika kemudian orang tua menginginkan anaknya rajib beribadah, maka ia harus menunjukkan dirinya rajin beribadah pula.

Penggambaran di atas, bila kemudian dikorelasikan dengan membangun budaya baca anak di keluarga, maka ayah, ibu, kakak hingga anggota keluarga yang lain perlu menjadi teladan membaca terlebih dahulu.

Kuliner Buku

Ketika cita-cita untuk membangun budaya membaca di keluarga disatukan visinya, tentu sebelum itu orang tua perlu mengalokasikan uang bulanan khusus untuk membeli buku. Tidak sekadar mengasih kepada mereka jatah bulan untuk kuota internet dan jajan, uang untuk kuliner buku juga kudu berikan.

Ada cerita menarik, kala saya kuliner buku di toko buku Bojonegoro, Jumat (23/3/26), tepatnya kala saya melihat-lihat secara bergantian judul buku dari rak ke rak, terdapat keluarga yang memutuskan untuk membelikan buku bacaan setelah anaknya memilih buku yang diinginkan. Dalam komentar sederhana yang saya tangkap, sang ibu mempersilahkan kepada anak untuk memilih judul buku yang disukai untuk kemudian dibaca.

Sang ibu turut memberi penjelas, bila alasan mempersilahkan anaknya memilih buku yang disenangi untuk dibeli, oleh sebab agar sang anak tidak lengket dengan gadget.

Berdasar cerita yang saya sampaikan di atas, sang ibu bagi saya bijak. Utamanya dari perilaku menjajakan (kuliner) anaknya buku. Sang ibu sudah menyadari, bagaimana masa depan literasi anaknya bila yang dominan adalah perilaku lengket dengan gadget.

Bentuknya sebagaimana bisa kita lihat kepada putra kita sendiri atau tetangga depan, kanan, kiri dan belakang, sekadar geser dari satu foto ke foto yang lain, atau dari satu video kepada video berikutnya itulah penampakan aktivitas yang ada.

Sebagai pertanggung jawaban untuk kuliner buku, saya kemudian juga membeli empat buku. Mulai dari karya Muhammad Syafi’i Siragih berjudul “Mendidik Anak Tanpa Kasar: Panduang Tarbiyah untuk Orang Tua dan Guru” (2021); “Madrasah Nabawiyah” karya Iqro’ Al-Firdaus (2019), “Ensiklopedi Hak dan Kewajiban Keluarga Muslim” karya Syaikh Abdul Mun’im Musthafa (2008), serta “Rich Dad Poor Dad” karya Robert T. Kiyosaki (2026).

Akhirnya, momentum peringatan ini, sudah selayaknya apakah kita –sebagai orang tua, sudah coba bersepakat untuk memberi jatah uang kuliner buku kepada anak, agar selanjutnya bisa menghidupkan misi baca di lingkup keluarga? Jika dua hal tersebut sudah, artinya selamat.

Kemudian bila baru salah satu, PR-nya sisi mana yang belum untuk coba dilaksanakan. Adapun bila dua-duanya belum, kedua-duanya perlu segera untuk diwujudkan agar literasi dasar di keluarga nyata dibangun. Bukan sekadar memenuhi mereka gonta-ganti gadget serta asoseris fisik –baju, tas, sepatu, yang setelah dikalkulasi jumlahnya lebih dari satu. Saat rusak, dibuang begitu saja.

*Penulis adalah Dosen Prodi PAI dan Kepala Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *