Opini  

KAMU BERSAMA ORANG YANG KAMU CINTAI

Ahmad Rifqi Azmi
Ahmad Rifqi Azmi

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi

Suatu ketika Rasulullah saw. ditanya oleh seorang sahabat tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi amal perbuatannya tidak mampu menyamai amal kaum yang ia cintai tersebut. Menanggapi pertanyaan itu, Rasulullah saw. menjawab:

أنت مع من أحببت (رواه مسلم)

Artinya: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai (HR. Muslim)

Pemahaman Umum

Banyak yang memahami hadis ini sebagai kabar gembira bahwa orang yang mencintai Rasulullah saw. akan dikumpulkan bersama beliau di surga, meskipun amalnya tidak dapat menyamai amal Rasulullah. Demikian jika yang dicintai adalah para wali Allah, ia akan bersama mereka kelak di akhirat. Semua itu tentu saja merupakan rahmat dan karunia Allah Ta’ala.

Tentu saja pemahaman seperti ini bisa berbahaya disalah pahami, seng penting seneng, besok surganya bersama orang orang sholih yang dicintai.

Cinta Sejati

Akan tetapi, ada cara pandang yang sedikit berbeda dalam memahami hadis tersebut. Menurut saya, sabda Rasulullah saw., “Kamu bersama orang yang kamu cintai”, tidak berbicara tentang kebersamaan di surga di akhirat, tetapi menggambarkan realitas cinta sejati. Seakan-akan Rasulullah saw. sedang mengatakan, “Jika cintamu benar sejati, pasti kamu akan berusaha menjadi seperti orang yang kamu cintai. Cinta sejati akan membuat seseorang kehilangan identitas aslinya (fana’), semua perbuatannya adalah perbuatan orang yang dicintai”

Demikianlah tabiat cinta. Cinta mendorong seseorang untuk meniru. Ketika seorang anak muda mengidolakan seorang penyanyi, ia akan meniru cara bernyanyi idolanya, gaya rambutnya, cara berpakaian, cara berjalan, bahkan berbagai kebiasaan kecil yang dimilikinya. Semakin besar rasa cintanya, semakin besar pula keinginannya untuk menyerupai orang yang dicintainya. Ia mulai fana’ kehilangan dirinya, yang ada hanyalah orang yang dicintai.

Begitu pula ketika seseorang mencintai orang-orang saleh. Jika cinta itu benar-benar mendalam, maka sedikit demi sedikit identitas dirinya akan melebur ke dalam identitas orang yang dicintainya. Dalam konteks kecintaan kepada Rasulullah saw., seseorang akan berusaha duduk sebagaimana Rasulullah duduk, berdiri sebagaimana Rasulullah berdiri, berbicara sebagaimana Rasulullah berbicara, serta meneladani akhlak beliau, baik lahir maupun batin. Yang tampak pada dirinya bukan lagi ego dan keinginannya sendiri, melainkan jejak-jejak akhlak Rasulullah saw. yang berusaha ia hidupkan dalam kehidupannya.

Adapun mengenai apakah kelak di hari kiamat seseorang akan berada pada tingkatan surga yang sama dengan Rasulullah saw. atau bersama para wali Allah, menurut saya hal itu bergantung pada kadar iman, amal, serta rahmat Allah yang diterimanya.

Salah satu alasan yang membuat saya memahami hadis ini demikian adalah banyaknya ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa penghuni surga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Al-Qur’an menyebut adanya golongan al-Abrār, al-Muqarrabūn, Aṣḥābul-Yamīn, dan berbagai tingkatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa derajat manusia di akhirat tidaklah sama.

Jika hadis “Kamu bersama orang yang kamu cintai” dipahami secara mutlak sebagai kebersamaan pada satu tingkat surga yang sama, maka akan muncul pertanyaan. Bukankah setiap muslim, sekecil apa pun imannya, pasti memiliki kecintaan kepada Rasulullah saw.? Mungkin kadar cintanya berbeda-beda, tetapi hampir tidak mungkin ada seorang muslim yang sama sekali tidak memiliki rasa cinta kepada beliau.

Kalau demikian, apakah semua muslim akan berada pada tingkatan surga yang sama dengan Rasulullah saw.? Bagaimana kemudian kita memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan adanya perbedaan derajat dan tingkatan di dalam surga?

Karena itu, “Kamu bersama orang yang kamu cintai”, Orang yang benar-benar mencintai seseorang akan fana’ kehilangan dirinya menuju orang yang ia cintai. Adapun apakah kelak ia akan berada pada derajat yang sama di surga dengan orang yang dicintainya atau tidak, hal itu tetap bergantung pada kadar amal, kualitas iman, serta rahmat Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam bissawab.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Pengasuh Jamaah Sabtu Sore Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dan Pengasuh Jamaah Ngabar Banjarsari yang juga kolumnis di jagatsembilan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *