Opini  

Menelisik Bahasa Jawi di Ranah Santri dan Kiai

Oleh: Nono Warnono

Perspektif terkait eksistensi bahasa Jawa atau bahasa Jawi yang diramal akan punah tak lama lagi, telah dibincang berbusa-busa oleh pakar, akademisi, hingga praktisi. Dua kutub yang beropini memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mengamini bahwa bahasa dan sastra Jawi akan mati digilas jaman, di satu pihak. Dan ada yang meyakini bahasa dan sastra Jawi tidak akan mati selama masyarakat suku Jawa masih ada di muka bumi. Komunikasi dengan bahasa Jawi akan tetap lestari, meski di sebagian masyarakat semakin tereduksi.

Sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom), bahasa Jawa sejatinya memiliki posisi strategis dalam menjaga kepribadian Indonesia. Di dalamnya terintegrasi nilai-nilai budi pekerti, tata krama dan unggah ungguh sebagai manifestasi akhlakul karimah yang niscaya dijaga. Bahasa dan sastra Jawa merupakan warisan (legacy) yang adiluhung yang sepantasnya dileluri (dilestarikan).

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, benarkah bahasa dan sastra Jawa akan segera punah? Suparto Broto, pakar sastra Jawa pernah mengemukakan statemen, selama bebrayan (masyarakat) suku Jawa masih ada, bahasa pun sastra Jawa akan tetap hidup sebagai piranti komunikasi. Prof. Dr. George Queen, Guru Besar sastra daerah dari Australia berpendapat sama ketika menjadi narasumber pada Temu Sastrawan Jawa Nusantara (Tetrawara) di Blitar tahun 2024.

Mari kita telisik bagaimana realita keberadaan bahasa dan sastra Jawa di tengah-tengah masyarakat, di lingkungan sekolah, kampus pergiruan tinggi, hingga di pesantren di seantero negeri. Masih tetap bertumbuh kembang layaknya dinamika sebuah bahasa, atau sudah menjelang senja kematiannya.

Jikalau kita amati bagaimana masyarakat desa berkomunikasi, mayoritas masih menggunakan bahasa Jawa. Bahkan masih ada yang mampu menggunakan krama madya dan krama inggil (krama halus). Meski ada fenomena anak-anak muda yang tidak begitu tertarik mempelajari dan menggunakan bahasa Jawa sebagai sebuah pilihan. Namun itu menjadi tidak signifikan, karena ketika para generasi muda ini masuk dalam kehidupan masyarakat secara umum mereka akan sedikit demi sedikit mengenal bahasa Jawa krama. Merasa pekewuh jika tidak menyelaraskan, takut dianggap tidak sopan. Apalagi jika sudah memasuki dunia kerja, bagaimana seharusnya mereka berinteraksi.

Di lembaga sekolah mulai jenjang Sekolah Dasar, pembelajaran bahasa Jawa masih diajarkan meski dengan jumlah jam efektif yang belum memadai. Berbagai lomba terkait dengan bahasa Jawa seperti lomba pidato bahasa Jawa, lomba mengarang berbahasa Jawa, menulis dan membaca puisi bahasa Jawa (geguritan) masih sering diselenggarakan bagi para siswa. Ini memberikan perspektif bahwa edukasi terhadap bahasa ibu masih dilestarikan sebagai penjaga budi pekerti.

Berbagai perguruan tinggi masih banuyak yang membuka program studi jurusan Bahasa dan sastra Jawa. Betapa dosen dan mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Jawa tidak hanya belajar an sich. Karena mereka juga mengembangkan bahasa dan sastra Jawa dalam berbagai perspektif keilmuan, menjadikannya sebagai bahan skripsi, tesis, serta bahan penelitian.

Penulis punya pengalaman menarik selama menggeluti bahasa dan sastra Jawa. Justru di era digital bahasa dan sastra Jawa semakin tumbuh subur. Banyak tulisan-tulisan di majalah berbahasa Jawa yang dialih wahanakan menjadi audio dan video sebagai konten di berbagai platform media sosial.

Begitu juga terkait karya tulis buku-buku bebahasa Jawa. Dulu, sebelum jaman digital, ketika menerbitkan buku yang berbahasa Jawa minim sekali yang membeli. Kini di aras digital, justru buku-buku berbahasa Jawa versi paper semakin laris karena dipromosikan lewat online, dan peminat banyak yang membeli via jagat ratmaya.

Peran Strategis Santri dan Kiai dalam Melestarikan Bahasa Jawi.

Forum-forum yang membincang bahasa dan sastra Jawa, para narasumber sering membahas keberadaan komunitas, akademisi nan meneliti, hingga praktisi yang berkreasi berinovasi, jarang diskusi tentang peran strategis santri dan kiai.

Ada momentum ketika kiai Ulil Abshar Abdala, ngaji kitab Ihya Ulumidfin karya Abu Hamid Imam Al-Ghazali pernah protes bertubi-tubi. Kenapa para pakar bahasa Jawa jarang menyinggung keberadaan bahasa Jawa di pesantren.

Masih menurut kiai Ulil, justru pesantren dalam hal ini santri dan kiai yang berada di garda terdepan dalam “ngleluri” bahasa dan sastra Jawa. Bagaimana tidak, para santri dan kiai di pesantren salaf mayoritas mengkaji kitab kuning. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa. Bahkan makna gandul hurup per hurup diterjemahkan dengan bahasa Jawa yang sangat detail.

Dengan demikian secara intens di banyak pesantren, para santri dan kiai telah mempraktekkan secara langsung bagaimana membaca dan menulis dengan bahasa Jawa melalui kajian. Para kiai membaca dan menjelaskan dengan panjang lebar, santri menulis memberi catatan penting dalam lembar kitabnya masing-masing. Oleh karena di banyak pesantren salaf, bahasa jawa masih dipergunakan sebagai piranti utama dalam komunikasi. Interaksi yang menyiratkan keluhuran budi, kehalusan rasa antara sesama santri atau ketawadhukannya kepada kiai.

Rasanya kurang adil manakala membincang kontribusi orang atau komunitas terhadap lestarinya bahasa Jawa, tanpa mengikutsertakan peran santri dan kiai di pesantren yang tak henti mengaji dengan piranti bahasa dan sastra Jawa.

Wabakdu, ditengah kegelisahan para akademisi dan praktisi mensikapi diskursus akan matinya bahasa dan sastra Jawi. Para santri dan kiai di pesantren adalah penjaga riil bahasa dan sastra Jawa lewat berbagai kajian kitab saban hari.

 

Penulis adalah: Nono Warnono, Ketua komunitas Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *