Oleh: Nono Warnono
Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) sejak kelahirannya pada tahun 1926 hingga saat ini, telah berkembang dinamis sebagai sebuah respon atas kegelisahan perubahan zaman. Tekanan kolonialisme, disrupsi globalisasi, pergeseran otoritas keagamaan, membentuk konteks awal mula kehadiran jam’iyyah Ahlussunah wal Jama’ah ini dengan perspektif peran strategisnya.
Menandai seabad dalam penanggalan Masehi, NU telah bermertamorfosa sebagai sebuah organisasi keagamaan yang berkembang atas lanskap peradaban dunia. Keterlibatannya dalam dinamika sosial, kultural dan kebangsaan dengan kiprahnya nan istiqamah telah menjadi tonggak sejarah (milestone) bagi peran organisasi keagaan lain di Indonesia.
Pada momentum menyongsong abad kedua, sejatinya yang mengemuka bukan sekedar masalah kesinambungan belaka, namun bagaimana memaknai relevansi realita yang dihadapi jam’iyyah di era nan lebih kompetitif dan kompleks ini. Agar eksistensinya tidak tereduksi oleh berbagai macam tantangan yang manakala tidak tepat mensikapinya akan menggilas diri sendiri.
Dalam perspektif moderasi, sesungguhnya NU telah berhasil menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren (warisan ulama) dengan perubahan zaman, sembari tetap kukuh menjaga NKRI sebagai bagian dari iman.
Namun demikian, keunggulan merawat tradisi, turats keilmuan klasik tidak lantas diposisikan sebagai artefak purba. Namun lebih sebagai sumber norma dan metodologi berfikir yang oleh Martin van Bruinessen (2011) disebut sebagai living tradition. Yakni tradisi yang hidup karena terus ditafsirkan ulang sesuai dengan konteks sosialnya. Tantangan abad kedua menuntut lebih dari sekedar merawat tradisi, karena otoritas keagamaan hari ini tidak lagi tunggal.
Dalam kondisi ini NU menghadapi dilema serius, yakni bagaimana harus menjaga kewibawaan keilmuan tanpa terjebak dalam elitisme kiai dan peantren yang tertutup dan eksklusif. Tradisionalisme manakala tidak dimaknai secara dinamis, beresiko disalahpahami sebagai sikap defensif terhadap perubahan.
Pada ranah yang tidak kalah esensial di zaman akhir ini adalah meneguhkan akhlak mulia, menjadikan akhlak sebagai landasan utama dalam berorganisasi dan berinteraksi sosial di tengah arus modernisasi. Dus, peringatan satu abad ini menjadi refleksi penting bahwa NU harus keluar dari zona nyaman untuk memenangkan tantangan masa depan, bukan sekadar bernostalgia dan dininabobokkan dengan sejarah. Senyampang menapak peran global (Fiqih Peradaban) untuk membawa “Islam Nusantara” ke kancah internasional (go global) demi menjawab tantangan zaman postmodern.
Transformasi Strategis NU pada Momentum Abad Kedua
Tanggal 31 Januari 2026 ini, genap satu abad jam’iyyah NU menandai perjalanan panjang sebuah organisasi keagamaan. Menjadi fase transformasi monumental dari ormas tradisionalis menjadi kekuatan moderat yang mendunia, dengan mengusung misi “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.
Betapa pada momentum ini sudah saatnya NU memperkuat sumber daya manusia (human resources), literasi digital, dan kemandirian ekonomi, serta bertransformasi dari otoritas karismatik ke metodologis yang relevan dengan zaman.
Peran strategisnya di bidang SDM terutama terkait regenerasi kepemimpinan menghadapi tantangan serius. Struktur besar, jaringan luas, seringkali menyulitkan konsolidasi visi lintas generasi. Generasi muda NU hidup dalam ekosistem global yang berbeda era. Mereka kosmopolitan, digital native, pun kritis terhadap otoritas simbolik. Manakala gagal menjembatani jarak tersebut, loyalitas kultural tidak otomatis menjadi partisipasi substantif yang transformatif.
Terkait dengan literasi digital, NU sudah seharusnya memperkuat peran strategisnya dalam mengupgrade pendidikan dan produksi pengetahuan. Menjadikan ma’had sebagai pusat transmisi nilai dan laboratorium pemikiran adalah sebuah keniscayaan. Begitu pula sikap responshif terhadap problem kontemporer dan peningkatan literasi digital sebagai keharusan bukan sebagai alternatif belaka.
Eksistensi NU memasuki abad kedua dituntut bertransformasi dan modernisasi dari sekadar bertumpu pada kharisma kiai menjadi penguatan metodologis (fikrah nahdliyyah) yang lebih kritis dan berbasis digital.
Pada dimensi kemandirian ekonomi, selain penguatan (reinforcement) sumber daya manusia (SDM) dan penguatan struktur organisasi, pemberdayaan dan kemandirian ekonomi warga nahdliyin sangat dibutuhkan.
Dalam konteks inilah, harlah Satu Abad NU, tidak cukup dirayakan dengan romantisme sejarah atau kebanggaan demografis an sich. Namun yang lebih esensial adalah melakukan evaluasi diri secara jujur sekaligus keberanian menata masa depan yang lebih visioner.
*) Penulis adalah Nono Warnono, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr MWCNU Baureno Bojonegoro.














