Oleh : Choirul Anam
Ada satu jenis manusia yang hampir selalu muncul setiap kali NU punya hajatan besar.
Namanya bukan peserta.
Bukan panitia.
Bukan pula delegasi resmi yang namanya tercetak rapi di kartu identitas.
Tetapi biasanya jumlahnya justru lebih banyak.
Namanya: Romli.
Rombongan liar.
Jangan salah paham. Liar di sini bukan berarti suka bikin rusuh. Romli lebih dekat dengan istilah “rombongan yang berangkat karena merasa punya hubungan batin dengan acara”. Tidak punya mandat, tetapi punya semangat. Tidak punya ID card, tetapi punya rasa memiliki. Tidak masuk daftar peserta, tetapi kalau ditanya, “Mau ke mana?” jawabannya mantap:
“Ke Muktamar.”
“Sebagai apa?”
“Ya… sebagai warga NU.”
Selesai.
Itulah barangkali bedanya NU dengan rapat RT.
Kalau rapat RT, yang tidak diundang biasanya malu datang.
Kalau Muktamar NU, yang tidak diundang malah bisa membuat rombongan sendiri.
Muktamar ke-35 NU akan digelar 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Keputusan tempat dan waktunya sudah ditetapkan PBNU, sementara panitia lokal terus mematangkan berbagai kebutuhan, termasuk parkir, dapur umum dan area bazar.
Semua sudah dipersiapkan.
Akomodasi.
Parkir.
Dapur umum.
Bazar.
Agenda persidangan.
Pengamanan.
Administrasi.
Delegasi.
Semuanya dipikirkan dengan serius.
Tetapi rasanya ada satu yang kurang afdal kalau tidak dipersiapkan:
Romli.
Sebab Muktamar NU lima tahunan bukan hanya perkara memilih siapa yang akan duduk di kursi ketua.
Bagi warga NU di kampung-kampung, Muktamar adalah semacam “lebaran organisasi”.
Lima tahun sekali.
Dan karena lima tahun sekali, maka kesempatan untuk datang ke Muktamar juga tidak boleh disia-siakan.
Bayangkan seseorang sekarang berusia 45 tahun. Kalau ia melewatkan Muktamar 2026, lalu lima tahun berikutnya baru datang, usia sudah 50. Kalau lima tahun berikutnya lagi, 55. Tahu-tahu sudah punya cucu, tetapi belum pernah merasakan duduk lesehan di sekitar arena Muktamar sambil mencari kopi dan bertanya:
“Sidangnya sudah selesai belum?”
“Belum.”
“Ketua umumnya siapa?”
“Belum tahu.”
“Terus kita ngapain?”
“Ya ngopi.”
Itulah Romli.
Datang bukan karena ingin mengambil keputusan, tetapi karena ingin menjadi bagian dari suasana.
Ada dimensi tabarrukan di sana.
Datang ke tempat para kiai berkumpul. Mendengar pengajian. Mengikuti istighotsah. Bersalaman dengan orang-orang alim. Menghirup udara pesantren. Barangkali pulang membawa keberkahan.
Kalau kebetulan bisa bertemu kiai yang selama ini hanya dilihat melalui YouTube, tentu bonus.
Kalau bisa foto, lebih bonus lagi.
Kalau fotonya bisa masuk status WhatsApp, lengkap sudah.
“Alhamdulillah, menghadiri Muktamar NU ke-35.”
Padahal lima menit sebelumnya masih bertanya kepada teman:
“Ini pintu masuknya lewat mana?”
Begitulah Romli.
Tidak usah terlalu serius.
Sebab kadang-kadang dalam perjalanan Romli, yang paling penting bukan sampai di mana, tetapi bersama siapa.
Berangkat dari kampung menggunakan satu minibus.
Isinya 15 orang.
Kursinya hanya 12.
Tiga orang kemudian menjadi “penumpang tambahan yang sudah diniatkan sejak awal”.
Bekal makanan dibawa dari rumah.
Ada nasi.
Ada sambal.
Ada kerupuk.
Ada termos kopi.
Ada yang membawa tikar.
Ada pula yang membawa charger, powerbank, dan kabel sepanjang sejarah.
Yang tidak dibawa cuma satu:
kepastian pulang jam berapa.
Karena kalau sudah sampai Tambakberas, agenda Romli bisa berkembang secara alami.
Rencana awal: datang, tabarrukan, melihat suasana Muktamar, lalu pulang.
Realitas:
“Eh, ada pengajian.”
“Eh, ada bazar.”
“Eh, ada teman lama.”
“Eh, ada kiai.”
“Eh, ada warung.”
Akhirnya pulang besok.
Muktamar memang bukan sekadar pemilihan ketua umum. Di dalamnya ada pembicaraan tentang arah organisasi dan program strategis NU untuk lima tahun mendatang.
Ini yang sering luput dari perhatian kita.
Kita terlalu sibuk membicarakan siapa yang menang, sampai lupa bertanya apa yang harus dikerjakan setelah menang.
Padahal NU tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bagus dalam forum, tetapi juga program yang menjawab persoalan warga.
Pendidikan.
Kesehatan.
Ekonomi umat.
Pesantren.
Digitalisasi.
Kemandirian organisasi.
Pemberdayaan kader.
Perlindungan warga.
Penguatan lembaga.
Sampai bagaimana NU tetap relevan ketika dunia berubah semakin cepat.
Anak-anak muda hari ini mungkin tidak lagi bertanya, “Apa kata koran?”
Mereka bertanya kepada Google.
Besok mungkin bertanya kepada AI.
Lusa entah bertanya kepada siapa.
Maka NU lima tahun ke depan harus mampu menjawab pertanyaan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Di sinilah Romli sebenarnya punya posisi yang menarik.
Ia mungkin tidak ikut sidang.
Tidak punya hak suara.
Tidak ikut menentukan siapa yang duduk di kursi strategis.
Tetapi ia adalah salah satu wajah dari jamaah yang kelak akan menerima dampak keputusan Muktamar.
Ia adalah warga NU yang membayar iuran, menghidupkan ranting, meramaikan pengajian, mengurus masjid, menjadi guru madrasah, mengelola koperasi, membantu tetangga, menjadi kader Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU-IPPNU, Banser, dan seabrek aktivitas sosial lainnya.
Jadi jangan anggap Romli hanya sebagai penggembira.
Kadang-kadang organisasi justru membutuhkan penggembira agar tidak kehilangan suasana gembira.
Sebab kalau semua terlalu serius, Muktamar bisa berubah menjadi seminar lima hari.
Padahal NU lahir dan tumbuh dari masyarakat.
Ada tawa.
Ada guyon.
Ada ngopi.
Ada diskusi.
Ada debat.
Ada perbedaan pendapat.
Ada yang serius.
Ada yang serius sekali.
Ada pula yang terlihat serius tetapi pikirannya sedang menghitung sisa uang bensin.
Semua itu bagian dari kehidupan jamaah.
Maka jika nanti akhir Agustus Tambakberas mulai dipenuhi rombongan dari berbagai daerah, jangan heran jika ada kendaraan yang datang tanpa rompi panitia, tanpa kartu peserta, tetapi membawa bendera NU dan sekantong kerupuk.
Mungkin itu Romli.
Jangan diusir.
Mereka datang bukan untuk merebut forum.
Mereka datang untuk ikut merasakan denyut hajatan.
Mereka datang untuk tabarrukan.
Mereka datang karena NU bagi mereka bukan sekadar struktur organisasi dari PBNU sampai ranting.
NU adalah rumah.
Dan kalau rumah sendiri sedang punya hajatan besar, rasanya kurang sopan kalau hanya melihat undangannya dari WhatsApp.
Harus datang.
Meski tidak masuk ruang sidang.
Meski hanya berdiri di luar.
Meski akhirnya lebih banyak ngopi daripada mengikuti diskusi.
Karena lima tahun sekali, warga NU punya kesempatan menyaksikan sejarah dari dekat.
Dan siapa tahu, dari ribuan Romli yang hadir itu, ada seorang anak muda yang pulang membawa sesuatu yang lebih penting daripada oleh-oleh Muktamar.
Ia pulang membawa gagasan.
Membawa semangat.
Membawa kecintaan kepada NU.
Dan suatu hari nanti, mungkin dialah yang berada di dalam ruang sidang.
Mungkin pula dialah yang menyusun program NU lima tahun berikutnya.
Atau paling tidak, menjadi ketua rombongan Romli.
Itu pun sudah sebuah pengabdian.
Sebab NU tidak hanya dibangun oleh mereka yang duduk di podium.
NU juga dibangun oleh mereka yang duduk di tikar.
Yang ikut doa.
Yang ikut makan.
Yang ikut tertawa.
Yang ikut repot.
Dan yang lima tahun sekali berkata:
“Ayo berangkat ke Muktamar. Tabarrukan. Sekalian piknik.”
Nah, kalimat terakhir itulah yang biasanya membuat istri di rumah mulai bertanya:
“Piknik kok bawa bendera NU?”
“Ini bukan piknik, Bu.”
“Terus?”
“Pengabdian.”
“Biayanya?”
“…Tabarrukan.”
Akhirnya sang istri diam.
Mungkin paham.
Mungkin pasrah.
Atau mungkin sedang menghitung berapa uang yang harus dibawa pulang oleh Romli.
Apa pun itu, satu hal jelas:
Muktamar tanpa Romli rasanya seperti pengajian tanpa kopi. Acara tetap berjalan, tetapi ada sesuatu yang terasa kurang.
Karena pada akhirnya, Muktamar bukan hanya tentang siapa yang memimpin NU lima tahun ke depan.
Ia juga tentang bagaimana jutaan warga NU merasa bahwa mereka masih menjadi bagian dari rumah besar ini.
Dan Romli adalah salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan:
“Saya mungkin tidak ikut memilih, tetapi saya ikut memiliki.”
Sampai jumpa di Tambakberas.
Para peserta silakan bersidang.
Para panitia silakan bekerja.
Para kiai silakan bermusyawarah.
Dan Romli?
Romli silakan mencari parkir.
*) Penulis adalah Choirul Anam Ketua PAC GP Ansor Balen yang juga Ketua BUMA PC GP Ansor Bojonegoro














