JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pagar Nusa Rayon Pondok Pesantren (PP) Mansya’ul Hidayah, Desa Kabunan, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, menggelar istighosah dan orasi keagamaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sekaligus anniversary ke-6 organisasi. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Akbar PP Mansya’ul Hidayah pada Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat semangat perjuangan santri, mempererat ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan, serta meneguhkan komitmen para pendekar dalam menjaga agama, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Acara tersebut dihadiri Pengasuh PP Mansya’ul Hidayah, KH. Noer Zainuddin Al Jumadi, Ketua PAC Pagar Nusa Balen, Ketua RT setempat, serta sejumlah ketua ranting dan anggota Pagar Nusa dari wilayah Kecamatan Balen.
Ketua Pimpinan Rayon Pagar Nusa PP Mansya’ul Hidayah, Ahmad Musthofa, mengatakan bahwa peringatan Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para ulama dan santri yang memiliki peran besar dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, semangat perjuangan tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki jiwa nasionalisme, akhlakul karimah, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Semangat perjuangan para ulama dan santri harus terus diwariskan kepada generasi muda. Santri harus memiliki jiwa nasionalisme, akhlak yang baik, serta semangat untuk mengabdi kepada masyarakat,” ujar Ahmad Musthofa yang akrab disapa Kang Must.
Ia menambahkan, anniversary ke-6 Pagar Nusa Rayon PP Mansya’ul Hidayah menjadi momentum refleksi atas perjalanan organisasi selama enam tahun dalam membina dan membentuk kader pendekar.
Pembinaan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berorientasi pada kemampuan bela diri, tetapi juga pembentukan karakter, spiritualitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
“Pagar Nusa Rayon PP Mansya’ul Hidayah diharapkan terus menjadi wadah pembinaan generasi muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren, menghormati para kiai dan guru, serta menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa hakikat seorang pendekar tidak hanya diukur dari kekuatan fisik dan kemampuan bela diri, tetapi juga dari keluhuran budi pekerti serta kemampuannya memberikan manfaat bagi sesama.
Gus Baba Tekankan Kebersamaan dan Loyalitas Kader
Dalam kesempatan yang sama, Moh. Baidhowi Mawahib Al Baba, S.H., yang akrab disapa Gus Baba, menyampaikan bahwa perjalanan enam tahun merupakan proses panjang yang membutuhkan kebersamaan, keikhlasan, loyalitas, dan semangat perjuangan seluruh anggota.
Menurutnya, peringatan hari lahir organisasi bukan sekadar perayaan, melainkan sarana untuk mengevaluasi perjalanan sekaligus memperkuat komitmen dalam menjaga keberlangsungan organisasi.
“Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pagar Nusa, seluruh kader diharapkan semakin solid, terus berprestasi, serta mampu menjaga nama baik organisasi dan pondok pesantren,” ujar Gus Baba.
Ia menegaskan bahwa peringatan HSN 2026 dan anniversary ke-6 Pagar Nusa Rayon PP Mansya’ul Hidayah harus menjadi momentum untuk memperbarui semangat perjuangan dalam mencetak generasi santri dan pendekar yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mencintai tanah air.
“Peringatan ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat tekad dalam mencetak generasi santri dan pendekar yang siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Gus Baba berharap Pagar Nusa terus istiqamah dalam menjalankan kegiatan pembinaan dan pengaderan. Menurutnya, setiap kegiatan organisasi merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang perlu dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Enam tahun melangkah, satu tekad dalam persaudaraan. Terus berjuang, terus berkhidmah, dan terus menjaga marwah Pagar Nusa,” ungkapnya.
Pendekar Harus Istiqamah Menjaga Salat dan Akhlak
Sementara itu, tamu undangan yang juga Ketua PAC Pagar Nusa Kecamatan Kapas, Nur Muhammad Mutohari, berpesan kepada seluruh santri dan pendekar Pagar Nusa Rayon PP Mansya’ul Hidayah agar senantiasa menjaga istiqamah, terutama dalam menjalankan ibadah salat tepat waktu.
Menurutnya, kemampuan bela diri harus berjalan seiring dengan ketaatan beragama dan pembentukan akhlak mulia. Seorang pendekar tidak cukup hanya memiliki kemampuan fisik, tetapi juga harus menunjukkan kedisiplinan dalam beribadah dan perilaku sehari-hari.
“Jangan merasa bangga ketika ada pendekar Pagar Nusa yang hebat, tetapi tidak memprioritaskan salat, tidak istiqamah dalam berjuang, dan tidak berakhlak mulia. Semua itu tidak ada gunanya karena hal-hal inilah yang selalu diajarkan oleh guru-guru kita dan wajib kita laksanakan,” tegas pria yang akrab disapa Bang Nur tersebut.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa identitas seorang pendekar tidak hanya tercermin dari kemampuan membela diri, tetapi juga dari keteguhan iman, kedisiplinan, dan keluhuran akhlaknya.
Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026 dan anniversary ke-6 ini, Pagar Nusa Rayon PP Mansya’ul Hidayah diharapkan semakin maju, berkembang, serta konsisten melahirkan kader yang berkarakter, berprestasi, dan berjiwa pengabdian.
Semangat santri berdaya, pendekar berakhlak, dan Pagar Nusa jaya diharapkan terus menjadi landasan perjuangan dalam menjaga tradisi pesantren, memperkuat persaudaraan, serta mengabdi kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.(Red)













