Oleh: Usman Roin*
21 April kita peringati Hari Kartini. Agak aneh bila yang menulis adalah saya –laki-laki. Tetapi, lebih aneh lagi, bila di peringatan ini tidak ada yang menulis sama sekali, perihal pesan apa yang bisa kita teruskan untuk Kartini masa kini.
Dari perjuangan “emansipasi” yang mengemuka dan lekat kepada sosok Raden Ajeng Kartini, terdapat hal menarik dan inspiratif dari sosok perempuan bangsawan di Mayong Jepara ini. Yakni, rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda. Literatur ini saya baca dari buku berjudul “Sisi Lain Kartini” karya Djoko Marihandono dkk., (2016:8).
Kegemaran literasi membaca Kartini, kala ia dimasukkan di sekolah dasar eropa atau Europesche Lagere School (ELS). Ketika awal 1892 lulus ELS, Kartini berencana mau meneruskan Pendidikan di HBS Semarang. Hanya saja, pukulan pahit dia tidak dizinkan untuk meneruskan. Karena di usia 13 tahun (baca hal. 13), Kartini kudu menjalani pingitan selam empat tahun (baca pula di hal. 20).
Guna mengusir dan menghadapi kepedihan pingitan itulah Kartini banyak membaca. Baginya, dengan banyak membaca hal itu akan mampu melupakan kesedihan hidup yang harus dijalani.
Membaca dan Mencatat
Kala membaca, Kartini tidak lupa membuat catatan yang berisi tema-tema yang dinilai penting. Isi buku catatannya mencakup tentang perilaku yang baik, pandangan hidup yang bisa dijadikan contoh, serta jiwa dan pikiran besar, yang nantinya akan dipelajari dan dipahami kembali.
Perjuangan Kartini untuk terus belajar bagi saya menarik untuk dicermati. Pertama, bangsawan pribumi yang coba tetap menyetarakan pendidikan meski mendapat perlakukan diskriminatif dari para pengajar Belanda, tidak menyurutkan langkahnya untuk semangat membaca dan mempraktikan Bahasa Belanda dalam dialog dengan tamu.
Yang menjadi pertanyaan besar Kartini kini, apakah selama menempuh jenjang pendidikan mulai dari dasar, menengah, atas hingga perguruan tinggi, semangat belajar –dalam hal ini membaca, intensif dilakukan?
Jika hal itu tidak dilakukan, jangan-jangan kita baru ikut pada perayaan simbolis. Memakai kebaya, menyemarakkan dengan flayer, tetapi tidak pernah coba belajar pesan apa yang bisa diambil hingga tidak lekang dari sosok Kartini untuk Kartini mas kini! Terlebih, terdapat tantangan personal non skat kehadiran gadget yang banjir informasi. Karenanya, kecakapan literasi kini tidak sekadar bisa membaca saja, tetapi sudah kudu kepada kecakapan memilah informasi secara benar. Sehingga, terpetakan mana yang hoax dan yang tidak hoax
Kedua, pesan menulis. Hal itu bisa kita ambil Ketika Kartini selama empat tahun dipingit. Tentu kita bisa bayangkan bila perempuan kini di pingit empat tahun tidak boleh ke mana-mana, betapa suara nyaringnya akan menggelegar kemana-mana. Apalagi, kini terdapat media sosial yang bisa menembus pertemanan tanpa batas.
Namun, bagi Kartini –kala itu, ia malah menuliskan hasil apa yang dibaca. Apa yang dilakukan oleh Kartini ternyata selaras dengan penyataan Ersis Warmansyah Abbas dalam buku berjudul “Suer, Nulis Itu Mudah” (2012: 132-133) bila dengan menuliskan apa yang ada di otak, hal itu bisa menyehatkan otak.
Ersis memberi gambaran logis, bila setiap hari otak kita dihujami banyak informasi –bahkan tidak terbendung, dan langsung diproses otak. Oleh sebab saking banyaknya, otak menjadi kuwalahan untuk sekadar menghitung informasi tersebut. Alhasil, hal itu perlu ditumpahkan dengan cara menulis agar fungsi kemerosotan daya otak tidak terjadi.
Ketiga, pesan belajar sepanjang hayat. Meski selamat dipingit Kartini tidak lepas dari buku, majalah, dan koran untuk dibaca. Artinya, ketidakperpihakan Kartini mengenyam pendidikan lanjutan –sebagaimana keinginannya meneruskan di MBS Semarang, ia pergunakan dengan banyak membaca.
Pesan ini bagi saya pesan cantik sekali dari sosok Kartini. Untuk mengentaskan dirinya sebagai perempuan yang nantinya akan melahirkan generasi cerdas masa depan, tidak sekadar pasrah tidak melakukan apa-apa. Tetapi, beliau senantiasa membaca sumber pengatahuan cetak kala itu.
Terhadap apa yang dilakukan Kartini, tentu semangat ini selaras dengan perintah Rasulullah Saw, agar di manapun dan kapanpun tetap tidak meninggalkan membaca sebagai peletak fondasi dasar pengetahuan.
Akhirnya, mari kita tangkap pesan-pesan lain dari sosok Kartini yang kita peringati. Entah memalui dengan membaca mandiri, atau melalui talk show yang diselenggarakan salah satunya oleh Perpustakaan Unugiri, bertema “Woman Campus in Kartini Days: Membaca Pesan Kartini Era Kini” tepat 21 April 2026.
Semoga lahir pesan bijak untuk Kartini kini dan Kartini-kartini masa yang akan datang. Amin ya rabbal ‘alamin.
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI dan Kepala Perpustakaan Unugiri Bojonegoro.














