Oleh : Ibnu Khakim, M.HI *)
Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke_81 tahun 2026 terasa berbeda dan sangat Istimewa, terutama bagi umat Islam, karena sekaligus bertepatan dengan bulan lahirnya Nabi Agung Muhammad Saw, berarengannya dua momentum ini seakan membawa harapan dan semangat baru, agar Indonesia ke depan semakin baik, semakin berdaulat, adil dan makmur, sebagaimana slogan yang diangkat pada tahun ini.
Negara bisa mewujudkan tujuaan dan cita-cita besarnya jika dua unsur saling memahami dan menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing. Pihak pemimpin dan rakyat, berada dalam kesadaran dan kewarasan yang normal. Kiranya, sebagai refleksi, tidak bosan-bosannya kita belajar dari Sejarah para pendahulu kita.
Pada masa kepemimpinan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, masyarakat Arab pernah mengalami paceklik yang sangat berat yang dikenal dengan ‘Ām al-Ramādah (Tahun Abu). Hujan tidak turun dalam waktu yang panjang, pepohonan mengering, hewan-hewan banyak yang mati, dan tanah menjadi tandus hingga tampak seperti abu. Kondisi tersebut menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami kesulitan, terutama bagi keluarga miskin yang tidak memiliki persediaan makanan.
Pada suatu malam, Khalifah ‘Umar bersama sahabatnya, Aslam, melakukan perjalanan menyusuri wilayah terpencil di sekitar Madinah untuk melihat secara langsung keadaan rakyatnya. Dalam perjalanan tersebut, mereka mendengar tangisan seorang anak dari sebuah kemah sederhana. Mereka kemudian mendekati kemah tersebut dan mendapati seorang ibu bersama anak-anaknya dalam keadaan sangat memprihatinkan.
Di dalam kemah itu, sang ibu tampak sedang mengaduk sebuah panci yang berisi air dan beberapa batu. Anak-anaknya terus menangis karena kelaparan. Sang ibu memasukkan batu ke dalam panci dan memasaknya dengan air semata-mata untuk menenangkan anak-anaknya dan membuat mereka percaya bahwa makanan sedang dimasak. Ia berharap anak-anaknya akan tertidur setelah menunggu makanan yang sebenarnya tidak pernah tersedia.
Peristiwa tersebut mengguncang hati ‘Umar. Ia menyadari bahwa masih terdapat rakyat di wilayah kekuasaannya yang mengalami kelaparan hingga harus memasak batu untuk sekadar menenangkan anak-anak mereka. Tanpa menyalahkan sang ibu, ‘Umar justru menganggap keadaan tersebut sebagai tanggung jawab dirinya sebagai seorang pemimpin.
Ia kemudian segera kembali ke Madinah dan mengambil persediaan gandum dari Baitul Mal. Ketika Aslam bermaksud menggantikan dirinya membawa karung gandum, ‘Umar menolaknya karena menganggap bahwa beban dan tanggung jawab terhadap rakyat tidak dapat dialihkan kepada orang lain. Ia sendiri memikul gandum tersebut kembali menuju rumah keluarga miskin itu.
Sesampainya di kemah, ‘Umar membantu sang ibu menyiapkan makanan. Ia bahkan ikut menyalakan api dan mengaduk makanan hingga matang. Setelah makanan siap, ia memastikan keluarga tersebut makan sampai mereka merasa cukup. ‘Umar kemudian menyaksikan anak-anak yang sebelumnya menangis karena kelaparan kembali merasa tenang dan gembira.
Keesokan harinya, perempuan tersebut datang ke Baitul Mal. Di sana ia baru menyadari bahwa orang yang telah membantunya pada malam sebelumnya adalah Khalifah ‘Umar bin Khaththab sendiri. Ia merasa malu dan takut karena sebelumnya telah menyalahkan serta mengkritik kepemimpinan ‘Umar. Namun, ‘Umar tidak menghukumnya. Sebaliknya, ia mengakui bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral atas penderitaan rakyatnya dan meminta agar perempuan tersebut memaafkannya.
Disisi lain ada rakyat seperti Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H/803 M) adalah seorang sufi besar yang perjalanan hidupnya menjadi simbol transformasi spiritual. Pernah hidup sebagai perampok yang ditakuti, ia kemudian bertaubat setelah tersentuh oleh ayat Al-Qur’an. Sejak itu, ia menekuni ilmu agama hingga menjadi ulama dan sufi terkemuka. Ungkapan beliau yang sangat masyhur tentang kepemimpinan, Fudhail berkata: “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, akan aku tujukan kepada pemimpinku.”
Bagi Fudhail, mendoakan pemimpin bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi strategi moral untuk menghadirkan kebaikan yang lebih luas. Kebaikan pribadi hanya berdampak pada individu, sedangkan kebaikan pemimpin dapat menjalar kepada rakyat dan negara. Karena itu, kualitas moral seorang pemimpin merupakan salah satu kunci kualitas kehidupan masyarakat.
Pesan Fudhail tetap relevan: membangun negara tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem; ia juga membutuhkan pemimpin yang baik, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan rakyat dan mempunyai rakyat yang sayang pemimpinnya, selalu mendoakan dengan doa terbaik, tidak hanya menuntut dengan caci maki dan tindakan yang merusak, meskipun rakyat juga harus kritis dan ketat dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-81, Indonesia berdaulat, adil dan makmur. Amin.
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, _adalah Intelektual Muda, Instruktur PD-PKP PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













