Oleh: Nono Warnono
Excited menyambut momen pergantian tahun baru masehi banyak dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Sedari aktifitas pemasangan obor depan rumah, bakar-bakar (ikan, ayam dan sejenisnya), menyalakan kembang api, arak-arakan kendaraan, hingga panggung hiburan nan gegap gempita mengumbar kegembiraan diantara kebisingan.
Sebagai sebuah perayaan, euforia menyongsong tahun baru dengan ekspresi hura-hura pun pesta pora tersebut banyak memunculkan kegaduhan opini di ruang publik. Sebagian masyarakat beropini di area nyata maupun aras digital betapa perayaan pergantian tahun baru adalah keniscayaan. Sebagai manifestasi dalam mengekspresikan kegembiraan setelah berjuang melakoni hidup kehidupan setahun, hingga menapaki tahun baru demi merenda harapan baru. Merawat asa menjaga ghirah tetap menyala di tahun depan agar lebih bergairah dan produktif.
Sebalikya, sebagian khalayak dengan opini beseberangan menuding, menyongsong pergantian tahun dengan euforia hura-hura pesta-pora adalah kemaksiyatan. Terutama dalam perspektif kaum muslimin muslimat, bahwa perayaan berlebihan tersebut merujuk pada prosesi kaum ghairul Islam yang disebut sebagai tasyabbuh.
Tasyabbuh atau meniru perbuatan non muslim dalam merayakan tahun baru masehi dimaknai sebagai meniru-niru laku orang kafir. Rasulullah SAW pernah mengemukakan statemen bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Parsi, Romawi, Yahudi dan Nasrani. Dari Abu Sa’id Al- Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersbda: “Sesungguhnya kalian mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk kedalam lubang dhab, yang penuh liku-liku, pasti kalianpun akan mengikutinya. Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi atau Nasrani ? beliau menjawab “Lantas siapa lagi?”
Mengekspresikan perayaan menyongsong tahun baru dengan kegembiraan membuncah berlebihan, bak merekayasa amalan nir tuntunan, berkumpul dan menunggu pergantian tahun yang dikatagorikan kontra produktif. Namun realitanya, di antara orang-orang jahil ada yang mensyariatkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. Pensyariatan demikian. bimakna melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Momentum pergantian tahun baru meniscayakan mengefektifkan waktu dengan amalan yang positif menurut tuntunan Islam.
Menyongsong pergantian tahun baru dengan berhura-hura, dalam perspektif Syaikh Sholeh Al- Fauzan Hafizhahullah, juga dimaknai sebagai perayaan yang tidak disyariatkan. Karena hari raya kaum muslim hanya ada 2 (dua), yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang jahiliyah dahulu memiliki dua hari, yaitu hari Nairuz dan Mukhrojan”, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk bersenang-senang di dalamnya, sekarang Allah SWT telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.”
Selain cakrawala pandang syariat keislaman, momen perayaan tahun baru tak lepas dari interaksi hablum minannas, komunikasi dengan sesama manusia merawat nilai humanism. Rasa kemanusiaan, rasa empati yang niscaya diejawantahkan termasuk dalam perayaan menyongsong tahun baru. Kegembiraan itu dibatasi dengan norma sosial, terlebih disaat keprihatinan di saat sebagian masyarakat dilanda bencana yang meniscayakan masyarakat berbelasungkawa.
Masihkah kita mengedepankan narasi penuh hura-hura pesta-pora, ketika di daerah-daerah diterjang puting beliung, lahar panas, banjir bandang. Bahkan tragedi di Aceh, Sumatera Utara, dan Padang porak-poranda akibat banjir bandang dan tanah longsor nan dahsyat menghancurkan pemukiman, merenggut harta benda bahkan nyawa manusia. Sehingga masyarakatnya tenggelam dalam duka, mengalami penderitaan serius dan kesedihan mendalam.
Nampak prioritas warga terdampak tersebut bergeser, tidak lagi soal menyiapkan diri memasuki akhir tahun nan meriah. Melainkan bagaimana bertahan hidup, melindungi dan mencari anggota keluarga yang hilang belum ditemukan. Menyelamatkan harta benda yang tergenang lumpur, serta menanti bantuan makanan yang tak kunjung tiba.
Realita masifnya musibah dan bencana tersebut, betapa momentum pergantian tahun baru niscaya dijadikan refleksi, nuansa berbagi pada saudara kita yang sedang dilanda tragedi. Selanjutnya menjadi bahan perenungan diri tentang hidup kehidupan yang telah dijalani, kontemplasi akan harapan baru, dan perbaikan hidup dalam bermuhasabah. Betapa banyak yang melihatnya sebagai waktu untuk introspeksi, mengevaluasi pencapaian, pun mensikapi realita secara kondisional. Menunda perayaan penuh hura-hura di saat bencana adalah laku shalih menjaga rasa dengan bijaksana.
Refleksi, Kontemplasi dan Introspeksi Memaknai Momentum Tahun Baru
Menguak euforia tahun baru di tahun-tahun sebelumnya yang gegap gempita nir makna, seharusnya menjadi bahan perenungan. Berkontemplasi sepenuh hati, apakah menyongsong datangnya tahun baru yang demikian menyia-nyiakan waktu dan kesempatan adalah sebagai hal yang produktif atau justru kontra produktif. Jikalau lebih sebagai laku destruktif, maka tiba saatnya kita merefleksi diri pun introspeksi mengubah kesempatan tersebut dengan agenda-agenda lain yang lebih bermakna.
KH. Mustofa Bisri, seorang ulama kharismatik, pernah memberikan tausiyah bahwa pergantian tahun adalah tanda kasih sayang Allah yang masih memberi manusia kesempatan untuk hidup lebih bermakna. Tahun baru, menurut Gus Mus, adalah momentum untuk bersyukur atas nikmat waktu dan berjanji untuk menggunakannya dengan lebih bijak. Beliau mengingatkan bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bagi umat Muslim, tahun baru seharusnya menjadi saat untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (hablum minallah) sekaligus meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama (hablum minannas).
Betapa waktu terus berjalan, tak pernah berhenti, tak pernah menoleh ke belakang. Tahun demi tahun berlalu seperti angin yang menyapu dedaunan, meninggalkan jejak yang hanya bisa kita kenang. Dan kini, kita berdiri di ambang pintu tahun baru 2026, yang penuh harapan sekligus terlintas kekhawatiran. Memunculkan antusiasme dan optimisme memaknai tahun baru dengan laku sejurus pensyariatkan adalah keniscayaan.
Islam memiliki pandangan yang unik mengenai pergantian waktu. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT kerap menyinggung perihal waktu atau masa. Islam memandang pergantian waktu sebagai momentum refleksi dan introspeksi diri atas kehidupan yang dijalankan oleh manusia. Parameternya adalah peningkatan ketakwaan, bersyukur, berdoa, dan bersandar kepada Allah SWT untuk selamat dan berbahagia di alam dunia dan di jagat akhirat.
Hal tersebut dapat dilihat dari firman Allah SWT dalam ayat Al-Qur’an yang membahas tentang waktu, yaitu surat al-Ashr. Ini mengkonfirmasi bahwa betapa pentingnya arti sebuah waktu, yang di dalamnya meliputi tahun, bulan, hari, bahkan jam. Firman Allah SWT: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman. Dan mengerjakan amal saleh. Dan saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 1-3).
Ulama kontemporer, Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir memaknai surat Al-Ashr ini, betapa Allah SWT memberikan manusia pelajaran bahwa sesuatu yang wajib dijadikan sebagai sebuah kesibukan di dunia yaitu iman dan amal shaleh. Sebab dua hal tersebut akan kembali lagi pada setiap manusia. Senada dengan pendapat tersebut, Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan, Allah SWT memperingatkan manusia yang kerap sibuk tersebab cinta duniawi (hubbud dunya). Mereka yang lupa akan tujuan utama dalam kehidupan dunia yang Allah SWT utus kepada mereka. Bahkan tidak segan-segan Allah SWT bersumpah pada ayat pertama surah ini: “Demi waktu”. Penggunaan sumpah ini membenderang makna, bahwa waktu merupakan modal esensial bagi manusia. Oleh sebab itu, mengisi setiap waktu yang Allah SWT berikan dengan baik dan tidak sia-sia harus konsisten diikhtiarkan.
Melihat makna dari surat Al-Ashr inilah, kita dapat menarik konklusi ke dalam konteks akhir tahun, menjadikannya momentum refleksi. Berkontemplasi, merenung kembali bagaimana perjalanan keimanan dan ketakwaan setiap kita pada 2026 nanti. Cakrawala masa yang wajib senntiasa dihiasi amalan-amalan nan selaras tuntunan Islam. Bukan bertasyabbuh amalan kaum Yahudi maupun Nasrani.
Dus menurut hemat penulis, momentum tahun anyar bukan sekadar hura-hura an sich, namun lebih sebagai proses kesadaran dan perubahan diri yang lebih positif. Bagi umat Islam setiap malam bisa dijadikan sebagai momen muhasabah untuk perbaikan diri, bukan hanya menunggu pergantian tahun. Senyampang, perayaan tahun baru menjadi momentum melahirkan rasa syukur, perenungan mendalam dan refleksi serta introspeksi tapak hidup yang sudah dijalani. Lebih memanfaatkan sisa usia untuk beramal ibadah dan berbuat lebih baik, bukan pada euforia yang kontra produktif.
*) Penulis adalah Nono Warnono, Ketua Lembaga Taklif wan Nasyr Nahdlatul Ulama MWCNU Baureno Bojonegoro














