JagatSembilan.com | Bojonegoro – Puncak penganugerahan Bojonegoro Innovative Award (BIA) 2026 digelar di Hotel GDK Bojonegoro, Kamis (29/10/2026). Ajang yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Bojonegoro ini menjadi bentuk apresiasi terhadap para inovator yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Hj. Nurul Azizah, Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Kepala BRIDA Bojonegoro Dilli Tri Wibowo beserta jajaran, serta para nominator dan pemenang dari berbagai kategori.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Nurul Azizah menekankan bahwa inovasi harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Penghargaan yang diberikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD), masyarakat, kelompok, hingga siswa diharapkan menjadi dorongan untuk terus melahirkan solusi yang bermanfaat.
Menurut Nurul Azizah, inovasi yang muncul di tingkat kabupaten juga perlu dipersiapkan agar dapat bersaing pada kompetisi inovasi tingkat provinsi maupun nasional.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari penghargaan yang diperoleh. Keberlanjutan atau sustainability menjadi hal penting agar inovasi tetap berjalan, memiliki penggerak, dan memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.
Nurul Azizah juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh nominator dan pemenang Bojonegoro Innovative Award 2026. Ia mendorong agar para inovator terus mengembangkan karya serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha dan industri (DUDI), serta masyarakat.
Sinergi tersebut diperlukan agar inovasi yang telah dihasilkan dapat terus disempurnakan dan mendukung visi pembangunan Kabupaten Bojonegoro.
BRIDA Siapkan Inkubasi Inovasi
Kepala BRIDA Bojonegoro, Dilli Tri Wibowo, menyampaikan bahwa penyelenggaraan BIA tidak boleh berhenti sebagai kegiatan rutin tahunan yang hanya menghasilkan penghargaan. Pihaknya ingin memastikan karya para inovator memiliki manfaat dan dapat dikembangkan setelah kompetisi berakhir.
“Namun kami ingin membawa manfaat lebih, khususnya hasil inovasinya tidak hanya berhenti di penghargaan. Punya manfaat ke depan dan bisa dikembangkan,” ungkap Dilli saat diwawancarai di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah memiliki pekerjaan lanjutan untuk mendukung inovasi agar bisa berkembang di tengah masyarakat. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendukung lima program prioritas pemerintah kabupaten, termasuk pengentasan kemiskinan dan penurunan angka pengangguran.
“Tugas Pemkab adalah menyelia hasil inovasinya tidak berhenti sampai dengan penghargaan saja,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, BRIDA menyiapkan proses inkubasi inovasi. Dalam proses ini, inovasi akan dikaji terlebih dahulu untuk melihat peluang penerapan dan keterkaitannya dengan program pemerintah daerah.
“Kalau kami menyebutnya inkubasi. Kita peram dulu, kemudian kita cari hal-hal yang dapat berhubungan dengan Pemkab, program-program Pemkab. Jika ada OPD yang bisa memayungi, kita anggap sebagai Bapak Asuh. Programnya dapat diterapkan,” jelasnya.
Apabila inovasi membutuhkan dukungan dari pihak luar pemerintah daerah, BRIDA akan berkoordinasi dengan perangkat daerah yang memiliki keterkaitan dengan inovasi tersebut.
Pompa Air Tenaga Surya hingga Peta Air Tanah
Dilin mencontohkan salah satu inovasi yang menarik perhatian, yakni alat penyiram tanaman berbasis tenaga surya. Inovasi ini dinilai dapat membantu petani, khususnya yang mengelola lahan jauh dari jaringan listrik.
Perangkat tersebut menggunakan kotak panel surya yang dapat dibawa ke berbagai lokasi untuk membantu memompa air di area persawahan yang jauh dari sumber listrik.
“Penyiram air tanaman berbasis tenaga surya ini cukup bermanfaat, khususnya petani yang jauh dari sumber listrik, sumber air,” tuturnya.
Menurut Dilli, inovasi tersebut relevan dengan kebutuhan petani, terutama ketika menghadapi musim kemarau dan keterbatasan akses terhadap sumber air maupun energi listrik.
Selain itu, terdapat inovasi berupa peta air tanah Bojonegoro yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan kegiatan pemerintah daerah terkait pengelolaan sumber daya air.
Dilli Tri Wibowo menjelaskan bahwa pemetaan tersebut menjadi salah satu pijakan untuk menyiapkan langkah pemanfaatan dan pengembalian cadangan air ke dalam tanah atau recharge.
“Kita sering melupakan mengambil air, intake, tapi tidak, beberapa orang lupa mengembalikannya ke bumi. Nah, namanya recharge kembali,” jelasnya.
Ia menambahkan, BRIDA sedang menyiapkan kajian dan penerapan teknologi yang memungkinkan upaya pengisian kembali air tanah dilakukan dengan cara sederhana maupun melalui program yang dapat didukung anggaran pemerintah daerah.(Red)













