Oleh: Sahri, M. Pd
Setiap kali Hari Raya Idul Adha tiba, suasana semarak menyelimuti umat Islam di seluruh penjuru dunia. Gema takbir berkumandang, hewan-hewan qurban mulai dipersiapkan, dan masjid-masjid ramai dengan aktivitas ibadah. Ritual penyembelihan hewan qurban menjadi puncak dari rangkaian ibadah Idul Adha yang telah diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi, di tengah maraknya pelaksanaan qurban secara fisik, terselip satu pertanyaan reflektif: apakah kita telah benar-benar memahami dan menghidupkan makna qurban secara utuh?
Qurban sejatinya tidak hanya tentang menyembelih hewan. Ia adalah simbol pengorbanan terdalam dari manusia kepada Tuhannya. Dalam kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail AS, yang menjadi landasan ibadah qurban, kita melihat ujian luar biasa atas keimanan, keikhlasan, dan penundukan ego. Ibrahim diminta untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, dan Ismail diminta untuk menyerahkan nyawanya secara sukarela. Tidak ada ruang bagi ego dalam pengabdian seperti itu.
Di era zaman Digitak, kita mungkin tidak lagi diperintahkan menyembelih anak atau mengorbankan sesuatu yang ekstrem. Namun, tantangan terbesar yang tetap relevan hingga hari ini adalah bagaimana kita mengorbankan ego. Ego dalam bentuk rasa paling benar, keinginan untuk selalu diakui, hasrat untuk tampil unggul, dan kebiasaan menyalahkan orang lain. Semua itu adalah bagian dari diri kita yang sulit dikendalikan lebih sulit daripada sekadar menyerahkan seekor kambing untuk disembelih.
Di tengah dunia yang serba kompetitif dan penuh tuntutan pencitraan, ego tumbuh dengan subur. Bahkan dalam praktik ibadah sekalipun, ego kerap menyusup tanpa disadari. Tidak sedikit di antara kita yang berqurban demi gengsi, demi tampilan di media sosial, atau demi dianggap dermawan oleh lingkungan sekitar. Nilai spiritual ibadah pun menyusut menjadi sekadar formalitas simbolik yang kehilangan esensi.
Mengorbankan ego berarti bersedia menempatkan nilai kemanusiaan di atas harga diri semu. Ini adalah tentang kemampuan untuk menahan diri, menerima perbedaan, mendengarkan dengan tulus, serta mengakui kesalahan tanpa defensif. Ketika seseorang mampu memotong egonya, ia tidak hanya sedang menunaikan ibadah qurban batin, tetapi juga sedang membangun ruang yang lebih lapang dalam hubungan sosial dan kehidupan bersama.
Qurban mengajarkan kita bahwa berbagi tidak hanya soal materi, tetapi juga berbagi ruang, kesempatan, dan penghargaan kepada orang lain. Ketika seseorang membagikan daging qurban kepada yang membutuhkan, seharusnya ia juga membagikan kesadaran akan pentingnya empati dan keadilan sosial. Di sinilah makna sosial qurban menjadi nyata: bukan sekadar membagi daging, tetapi membangun solidaritas.
Jika kita menilik kondisi masyarakat hari ini, ego telah menjadi akar dari banyak konflik. Di tingkat rumah tangga, ego memicu perceraian. Di lingkungan kerja, ego melahirkan persaingan tidak sehat. Di ranah politik dan sosial, ego menghasilkan perpecahan. Maka, mengorbankan ego bukan hanya menjadi ibadah individual, tetapi juga kontribusi nyata dalam merawat kohesi sosial.
Idul Adha adalah momentum penting untuk melakukan refleksi spiritual. Ia memberi ruang bagi setiap individu untuk bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang telah saya korbankan tahun ini? Apakah hanya sebatas hewan, ataukah saya juga sedang belajar melepaskan kelekatan terhadap status, kekuasaan, atau dendam pribadi?
Berqurban secara fisik, dalam bentuk membeli dan menyerahkan hewan, memang mudah. Dengan modal finansial yang cukup, semua orang bisa melakukannya. Tetapi berqurban secara batin, dalam bentuk menundukkan ego, adalah proses panjang yang menuntut kesadaran dan latihan spiritual terus-menerus. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa dipamerkan, dan tidak bisa diukur secara kasatmata.
Agama, dalam hakikatnya, tidak hanya ingin membentuk manusia yang ritualistik, tetapi juga yang berjiwa rendah hati dan bijaksana. Maka, bila setiap Idul Adha berhasil menumbuhkan sikap tawadhu’, memperkuat kesabaran, dan meningkatkan kepedulian sosial, maka sesungguhnya qurban itu telah mencapai tujuan terdalamnya.
Sebaliknya, bila qurban hanya menjadi ajang pamer, kompetisi, atau formalitas tahunan tanpa dampak spiritual maupun sosial, maka kita patut khawatir bahwa yang dikorbankan hanyalah hewan, tetapi ego dalam diri tetap utuh dan merajalela.













