Aswaja  

Tanda Kebesaran Allah di Balik Setiap Peristiwa

Ilustrasi seorang muslim bertafakur memandang keindahan alam sebagai tanda kebesaran Allah SWT dan ayat-ayat kauniyah.
Gambar ilustrasi Seorang hamba bertafakur menyaksikan keindahan alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengantarkan hati semakin mengenal kebesaran Allah SWT.(By chatgpt)

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M.Ag

Allah Swt menciptakan alam semesta bukan sekadar untuk dihuni atau dinikmati manusia. Seluruh ciptaan-Nya merupakan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda yang mengantarkan seorang hamba semakin mengenal Allah. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup melihat dunia dengan mata kepala, tetapi juga dengan mata hati. Di balik setiap peristiwa, sekecil apa pun, tersimpan pelajaran yang dapat mendekatkan manusia kepada Rabbnya.

Sayangnya, banyak orang berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Mereka menikmati keindahan alam, mengagumi kemajuan ilmu pengetahuan, atau menjalani pahit-manis kehidupan tanpa pernah bertanya, “Apa yang Allah ingin tunjukkan melalui semua ini?” Padahal, apabila alam dibaca dengan cahaya iman, setiap kejadian akan menjadi jalan menuju Allah, bukan sekadar pengalaman hidup yang berlalu begitu saja.

Alam Semesta adalah Jalan Menuju Allah

Allah Swt. berfirman,

قُلِ ٱنظُرُواْ مَاذَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.'” (QS. Yunus: 101)

Menariknya, dalam ayat tersebut Allah tidak hanya memerintahkan manusia melihat langit dan bumi sebagai benda-benda ciptaan. Al-Qur’an menggunakan redaksi “mādzā fis-samāwāti wal-ardh” (apa yang ada di langit dan bumi), seakan mengajak manusia menembus apa yang tampak di permukaan. Ada sesuatu yang hendak Allah perlihatkan di balik seluruh ciptaan, yaitu kebesaran Dzat-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan keagungan perbuatan-Nya.

Gunung yang kokoh membuat kita mengenal Allah sebagai Al-Qawiyy, Yang Maha Kuat. Kasih sayang seorang ibu menjadi cermin yang mengantarkan kita memahami rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Keindahan alam mengingatkan kita kepada Allah Al-Jamīl, Yang Maha Indah. Kekuasaan para pemimpin di dunia mengantarkan kita mengenal Allah sebagai Al-Malik, Raja Yang Sesungguhnya. Dengan mengenal ciptaan, seorang hamba semakin mengenal Penciptanya.

Namun, perlu diingat bahwa sifat-sifat makhluk tidak pernah sama dengan sifat Allah.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Karena itu, Jangan sampai seseorang terpukau oleh bunga tetapi lupa kepada Dzat yang menumbuhkannya. Jangan sampai kagum kepada ilmu pengetahuan tetapi melupakan Allah yang menetapkan seluruh hukum alam. Ketika kekaguman berhenti pada makhluk, saat itulah makhluk berubah menjadi hijab.

Mengubah Alam dari Hijab Menjadi Dalil

Cara pandang yang diajarkan para ulama dikenal dengan istilah Tahwīlul Kauni minal Hijābi ilad Dalīl, yakni mengubah alam dari sesuatu yang menjadi hijab menjadi dalil yang menunjukkan kepada Allah. Yang berubah bukanlah alam, melainkan hati manusia.

Hujan yang sama dapat dianggap sekadar fenomena meteorologi oleh sebagian orang, tetapi bagi seorang mukmin ia adalah bukti rahmat Allah. Musibah sakit mungkin dipandang sebagai nasib buruk, tetapi orang yang beriman melihatnya sebagai cara Allah memperlihatkan keperkasaan kehendak-Nya; bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menolak keputusan-Nya.

Karena itulah Al-Qur’an menyebut alam sebagai ayat, tanda-tanda kebesaran Allah.

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

Artinya: “Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang serta pada apa yang Allah ciptakan di langit dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus: 6)

Matahari, bulan, pepohonan, lautan, bahkan perjalanan hidup kita sendiri merupakan ayat-ayat yang Allah bentangkan setiap hari. Semua itu mengajak manusia untuk semakin mengenal-Nya.

Alam semesta dapat diibaratkan seperti papan penunjuk jalan. Sebuah rambu bertuliskan “Surabaya 30 km” bukanlah Surabaya, melainkan penunjuk arah menuju tujuan. Demikian pula seluruh makhluk. Ia bukan tujuan akhir, melainkan penunjuk jalan menuju Allah. Maka jangan berhenti pada petunjuk, tetapi teruslah melangkah menuju Dzat yang ditunjukkan.

Dzikir dan Tafakur: Kunci Membaca Ayat-Ayat Allah

Pertanyaannya, bagaimana agar hati memiliki cara pandang seperti itu?

Jawabannya di di antaranya adalah dengan dzikir dan tafakur. Dzikir menjaga hati agar selalu sadar akan kehadiran Allah, sedangkan tafakur melatih akal untuk membaca hikmah di balik setiap ciptaan dan setiap peristiwa. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Tafakur tanpa dzikir hanya akan melahirkan kekaguman kepada alam. Sebaliknya, dzikir tanpa tafakur sering kali belum mampu menghadirkan kedalaman makna ketika memandang kehidupan.

Para ulama selalu menggabungkan keduanya. Ketika melihat matahari, hujan, gunung, atau merasakan nikmat dan musibah, iringilah dengan dzikir kepada Allah. Dengan begitu, alam tidak lagi menjadi objek yang hanya dinikmati, tetapi berubah menjadi jembatan yang menghubungkan hati dengan Sang Pencipta. Semakin sering seorang hamba berdzikir dan bertafakur, semakin mudah ia melihat Allah di balik setiap peristiwa.

Pada akhirnya, Semakin sering melihat ayat ayat Allah di dunia ini, semakin bertambah pula ma’rifah, cinta, keyakinan, tawakal, dan kedekatan kepada Allah Ta’ala. Semoga kita semua diberikan taufiq oleh Allah untuk dapat melakukan hal-hal tersebut, aamin ya rabbal aalamiin.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *